BAB I
Pengertian probabilitas dan statistika
A.
Pengertian Probabilitas
Probabilitas adalah suatu nilai
yang digunakan untuk mengukur tingkat terjadinya suatu kejadian yang acak. Kata
probabilitas itu sendiri sering disebut dengan peluang atau kemungkinan.
Probabilitas secara umum merupakan peluang bahwa sesuatu akan terjadi.
Konsep probabilitas memiliki peranan yang penting dalam kehidupan
sehari-hari, mulai dari bidang ilmiah, bidang pemerintahan, bidang usaha atau
industri, sampai pada masalah-masalah kecil seperti masuk kantor atau tidak
karena awan tebal yang kemungkinan akan hujan deras dan banjir.
Dalam
mempelajari probabilitas, ada tiga kata
kunci yang harus diketahui yaitu eksperimen, hasil (outcome) dan
kejadian atau peristiwa (even). Sebagai contoh, sebuah eksperiman
dilakukan dengan menanyakan kepada 100 orang pembaca, apakah mereka akan
mengambil mata kuliah statistik atau kalkulus. Dari eksperimen ini akan
terdapat beberapa kemungkinan hasil. Contohnya kemungkinan hasil pertama ialah
sebanyak 58 orang akan mengambil mata kuliah apapun. Kemungkinan hasil lain
adalah bahwa 75 orang mengambil mata kuliah kalkulus dan sisanya mengambil mata
kuliah statistik. Contoh lain dari eksperimen adalah pelemparan sebuah dadu.
Hasil (outcome) dari pelemparan sebuah dadu tersebut kemungkian akan
keluar biji satu atau biji dua atau biji tiga dan seterusnya. Kumpulan dari
beberapa hasil tersebut dikenal sebagai kejadian (even).
Probabilitas biasanya dinyatakan dengan bilangan desimal (seperti
0,50, 0,20 atau 0,89) atau bilangan pecahan seperti 5/100, 20/100, 75/100.
Nilai dari probabilitas berkisar antara 0 sampai dengan 1. Jika semakin dekat
nilai probabilitas ke nilai 0, maka semakin kecil juga kemungkinan suatu
kejadian akan terjadi. Jika semakin dekat nilai probabilitas ke nilai 1, maka
semakin besar peluang suatu kejadian akan terjadi.
B.
Pengerian Statistika
Statistika
adalah Ilmu yang
berurusan dengan pengumpulan, penyajian dan analisis data untuk menarik
kesimpulan dan memanfaatkannya dalam menentukan keputusan pada keadaan tidak
pasti.
Sedangkan pengertian statistika menurut para
ahli adalah sebagai berikut:
1)
Menurut Kendal dan Stuart
Pengertian Statistika
adalah cabang dari metode ilmiah yang berhubungan dengan pengumpulan data yang
dikumpulkan dengan mencacah atau mengukur sifat-sifat dari populasi.
2)
menurut Mood, Graybill
dan Boes
Statistika adalah
teknologi dari metode ilmiah. Mereka juga menambahkan bahwa statistika
berhubungan dengan rancangan percobaan dan penyelidikan, dan penarikan
kesimpulan statistik.
3)
menurut Modenhall
Statistika
ialah suatu bidang sains yang berkaitan dengan ekstraksi informasi dari data
numerik dan menggunakannya untuk membuat keputusan tentang populasi dari mana
data tersebut diperoleh.
Tujuan
dari statistika adalah untuk membuat kesimpulan mengenai suatu yang
lebih luas (populasi) berdasarkan keterangan yang ada pada sebagian contoh
(sampel) yang diambil dari populasi.
Sedangkan
Teori statistika adalah suatu teori informasi yang berhubungan dengan
pengangkaan informasi, menentukan percobaan atau prosedur untuk pengumpulan
data, dengan pengeluaran biaya yang minimal, dari sejumlah informasi tertentu
dan menggunakan informasi ini untuk membuat kesimpulan-kesimpulan. Pembuatan
kesimpulan terhadap populasi yang tidak diketahui ialah prosedur yang terdiri
atas dua langkah. Langkah pertama yaitu kita menentukan prosedur-prosedur
penarikan kesimpulan yang cocok dari situasi yang dihadapi dan langkah kedua
yaitu kita mencari ukuran kecocokan dari kesimpulan yang dihasilkan.
Jadi data
atau inforrmasi merupakan bagian yang sangat penting dalam
menggunakan statistik sebagai alat untuk mengambil keputusan. Demikian juga
sebaliknya, statistika adalah salah satu alat yang dapat dipergunakan untuk
memanfaatkan data (informasi) sebagai bahan pengambilan keputusan. Selain
karena menggunakan informasi atau data sebagai landasan pengambilan keputusan,
pengambilan keputusan dengan statistika juga memiliki keunggulan lain yaitu
statistika juga memberikan ukuran kecocokan atau ukuran kesalahan dari
kesimpulan yang dibuat.
C.
Mengapa Statistika Dibutuhkan?
Pada era globalisasi ini, informasi menjadi
basis intelektual di masyarakat dan hampir semua kegiatan manusia bersumber
pada informasi. Kebutuhan informasi data semakin meningkat untuk keperluan
analisis dan dalam pembuatan keputusan baik didunia penelitian maupun
pengembangan bisnis, industri, serta lembanga lainnya.
Statistika sebagai bagian dari ilmu
pengetahuan analisis data berkembang sangat cepat dan telah masuk diberbagai
penerapan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan satatistika
didukung oleh pengembangan teknologi informasi dengan perangkat lunak
statistika berupa berbagai paket statistika dalam personal komputer.
Penggunaan statistika dalam dunia
industri meningkat secara cepat terutama dipicu dengan dikeluarkannya sistem
kualitas yaitu pada ISO 9000 pada tahun 1987 sebagai standar kualitas internasional
Indonesia mengadopsi sistem kualitas ISO 9000 dan memberi nama Standar Nasional
Indonesia (SNI)19-9000-1992. Dengan adanya Klausul dalam ISO 1900 tentang
peningkatan kualitas secara terus meneru, maka semua lembaga atau industri yang
menerapakan ISO 1900 atau menejemen kualitas harus meneerapkan metode
statistika sebagai metode yang direkomendasi kan.
Undang-Undang Nomor 16 tahun 1997
mengamatkan bahwa statistika adalah sangat penting artinya bagi
perencanaan, pelaksanaan, pemantauaan, dan evaluasi penyelenggaraan berbagai
kegiatan disegenap aspek kehisupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
dalam pembangunannasional.
Peran statistika semakin menjadi penting
akibat dorongan dari beberapa faktor pengembangan masyarakat antara lain
sebagai berikut:
- Meningkatkan kesejahteraan masyarakat menyebabkan
data statistika yang dibutuhakan semakin beragam.
- Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi
yang berdampak terhadap pengembangan metode, cara analisis , dan
pemrosesan data sehingga bentuk pengajian data menjaadi suatu informasi
yang berguna.
- Munculnya globalisasi yang ditandai dengan
meningkatnya persaingan global.
BAB II
Pengolahan Data dan Penyajian
A. Jenis-jenis
Data
Data adalah sekumpulan informasi yang diperoleh dari
suatu pengamatan atau penelitian. Bentuk data adalah sebagai berikut :
- Data
Kuantitatif, yaitu data yang berupa angka dan diperoleh dari hasil
pengukuran. Contoh : umur siswa kelas 3 SMP, berat badan siswa kelas 3 SMP
dan lain-lain.
- Data
kuantitatif, yaitu data yang berhubungan dengan kategori/karakteristik
(berupa kata-kata), biasanya diperoleh dari hasil wawancara. Contoh : data
tentang makanan kesukaan, suku bangsa, dan lain-lain.
1.
Menurut cara memperolehnya :
- Data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri atau
seorang atau suatu organisasi langsung dari obyeknya. Contoh :
Mewawancarai langsung penonton bioskop 21 untuk meneliti preferensi
konsumen bioskop.
- Data sekunder yaitu data yang didapat tidak secara langsung dari
objek penelitian. Peneliti mendapatkan data yang sudah jadi yang
dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara
komersial maupun non komersial. Contohnya adalah pada peneliti yang
menggunakan data statistik hasil riset dari surat kabar atau majalah.
2.
Menurut sumbernya :
- Data internal adalah data yang menggambarkan keadaan atau kegiatan
dalam suatu organisasi. Misal : data keuangan, data pegawai, data
produksi, dsb.
- Data eksternal yaitu data yang menggambarkan suatu keadaan atau
kegiatan di luar suatu organisasi. Contohnya adalah data jumlah
penggunaan suatu produk pada konsumen, tingkat preferensi pelanggan,
persebaran penduduk, dan lain sebagainya.
3.
Menurut sifatnya :
- Data kualitatif adalah data yang bukan dalam bentuk angka
- Data kuantitatif adalah data dalam bentuk angka
4.
Menurut waktu pengumpulannya :
- Cross section / insidentil adalah dikumpulkan pada suatu waktu
tertentu. Contohnya laporan keuangan per 31 desember 2006, data
pelanggan PT. Angin Ribut bulan mei 2004, dan lain sebagainya.
- Data berkala / time series data adalah data yang dikumpulkan dari
waktu ke waktu untuk menggambarkan suatu perkembangan atau kecenderungan
karena keadaan/ peristiwa/ kegiatan. Contoh data time series adalah
data perkembangan nilai tukar dollar amerika terhadap euro eropa dari
tahun 2004 sampai 2006, jumlah pengikut jamaah nurdin m. top dan doktor
azahari dari bulan ke bulan, dll.
5.
Menurut skala pengukuran data
·
Data dikotomi
Data
dikotomi sering juga di sebut sebagai data deskrit, data kategorik atau data
nominal. Data ini merupakan hasil perhitungan, sehingga tidak dijumpai bilangan
pecahan. Data dikotomi adalah data yang paling sederhana yang disusun menurut
jenisnya atau kategorinya. Bila kita telah memberikan nama kepada sesuatu
berarti kita telah menentukan jenis atau kategorinya menurut pengukuran kita.
Dalam data dikotomi setiap data dikelompokan menurut kategorinya dan diberi
angka. Angka-angka tersebut hanyalah label belaka, bukan menunjukan tingkatan
(ranking). Dasar dalam menyusun kategori data tidak boleh tumpang tindih
(mutually exclusive). Kalau kita melakukan kategori secara alamiahnya, maka
disebut data diktonomi sebenarnya (true dicthomi) dan jika kategorinya
dibuat-buat sendiri (direkayasa), maka disebut dikotomi dibuat-buat (artifical
Dichotomi).
Contoh
dari data dikotomi sebenarnya antara lain adalah: jenis kelamin umpamanya ada
tiga yaitu laki-laki diberi angka 1, banci diberi angka 2 dan perempuan diberi
angka 3. Anka 3 pada wanita bukan berarti kekutan wanita sama dengan tiga kali
laki-laki. Demikian pula bansi sama dengan dua laki-laki. Tetapi seperti
disebutkan tadi bahwa angka-angka tersebut hanyalah label belaka. Banyak
contoh-contoh data dikotomi sebenarnya ini seperti macam warna kulit, suku bangsa,
bahasa daerah, dan sebagainya.
Data
dikotomi dibuat-buat apabila data itu mempunyai katergorik mutlak atau alamiah
seperti di atas tadi, oleh sebab itu data tersebut masih dapat diubah-ubah jika memang
dikehendaki. Sebagai contoh: tidak lulus diberi angka 1 dan lulus diberi angka
2. Tetapi jika yang tidak lulus ingin kita ubah menjadi lulus, maka kita dapat
saja mengadakan ujian ulangan. Seperti dengan uraian di atas tadi bahwa
pemberian angka pada data dikotomi ini hanyalah label belaka. Bukan berarti
yang tidak lulus bodohnya dua kali yang lulus.
Data
dikotomi ini mempunyai sifat-sifat ekskuisif, tidak mempunyai urutan (ranking),
tidak mempunyai ukuran baru, dan tidak mempunyai nol mutlak.
·
Data Kontinum
Data
kontinum terdiri atas tiga macam data yaitu: data ordinal, data interval, dan
data rasio. Ketiga macam data-data
tersebut diuraikan seperti
berikut ini:
1.
Data Ordinal
Data
ordinal ialah data yang sudah diurutkan dari jenjang yang paling rendah sampai
ke jenjang yang paling tinggi, atau sebalikntya tergantung peringkat selera
pengukuran yang subjektif terhadap objek tertentu. Kita dapat menyatakan bahwa
saya lebih suka jeruk A daripada Jeruk B meskipun sama-sama tergolong jenis
jeruk. Selanjutnya jeruk B kita beri bobot 1 dan jeruk A kita beri bobot 2.
Pembobotan biasanya merupakan urutannya. Oleh sebab itu, data ordinal disebut
juga sebagai data berurutan, data berjenjang, data berpangkat, data tata
jenjang, data ranks, dan data petala, data bertangga atau data bertingkat. Pemberian
jenjang tersebut pada umumnya dapat dilakukan
sebagai berikut:
Mula-mula
kita urutkan data itu mulai dari data yang terendah sampai data yang tertinggi.
Demikian pula sebaliknya. Kemudian berilah angka 1 untuk yang tertinggi, angka
2 pada yang berada di bawahnya dan seterusnya.
Sebagai contoh:
1) dalam
suatu pertandingan angkat besi, baka didapatkan data berjenjang sebagai
berikut:
· Juara 1 mampu
mengangkat 400 Kg
· Juara 2 mampu
mengangkat 390 Kg
· Juara 3 mampu
mengangkat 325 Kg
· Juara 4 mampu
mengangkat 200 Kg
Contoh-contoh
data ordinal lainnya adalah: golongan gaji, pangkat, pendidikan mulai Taman
Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi, status sosial (tinggi, menengah, dan
rendah), Daftar Urutan kepegawaian (DUK), dan sebagainya. Data ordinal ini
lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan data nominal. Dalam dunia
pendidikan, dapat diberikan contoh sebagai berikut:
Ketika akan
diadakan ujian, para peserta diberikan nomor ujiannya masing-masing. Penomoran
terhadap semua peserta disebut peserta yang masuk nominasi. Kemudian proses
ujian berlangsung. Akhirnya diadakan pengumuman peserta yang mendapat ranking
tertinggi (nomor 1,2, dan 3) dan seterusnya.
Berdasarkan
contoh ini, maka jelaslah bahwa penomoran ketika sebelum ujian yaitu nomor
ujiannya hanyalah label belaka. Peserta nomor ujiannya mendapat nomor 1, belum
tentu mendapat ranking 1, dan seterusnya. Bisa saja yang nomor ujiannya yang
bukan nomor 1 mendapat ranking 1. Ranking tersebut tentu saja sangat ditentukan
oleh banyaknya soal ujian yang dapat dijawab dengan benar, sehingga didapat
nilai yang lebih tinggi.
Data ordinal
bersifat ekskuisif, mempunyai urutan, tidak mempunyai ukuran baru, dan tidak
mempunyai nilai nol mutlak.
2.
Data Interval
Data
interval mempunyai sifat-sifat nominal dari data ordinal. Di samping itu ada
sifat tambahan lainnya pada data interval yaitu mempunyai nol mutlak. Akibatnya
ia mempunyai skala interval yang sama jaraknya. Pengukuran data interval tidak
memberikan jumlah yang absolut dari objek yang diukur. Contohnya adalah sebagai
berikut: Dalam Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa dikenal
standar-standar penilaian sebagai berikut:
A = 4, B = 3, C = 2, dan D = 1.
IPK A = 2, IPK B = 3, IPK C = 2, dan IPK D =
1
Interval antara A dengan B = 4 - 1 = 3
Interval antara B dengan C = 3 - 2 = 1
Interval antara C dengan D = 2 - 1 = 1
Interval antara A dengan C = 4 - 2 = 2
Interval antara B dengan D = 3 - 1 = 2
Interval antara A dengan D = 4 - 1 = 3
Jadi data
interval dapat ditambah maupun dikurangkan. Walaupun demikian, tidak dapat
disimpulkan bahwa kepandaian atau keberhasilan A adalah empat kali keberhasilan
B. demikian pula tidak dapat disimpulkan bahwa keberhasilan A adalah dua kali B
atai tiga kali C.
Contoh-contoh
lainnya dari data interval adalah: persepsi, tanggapan, dan sebagainya. Dalam
penelitian sosial data interval paling banyak digunakan.
Data
interval bersifat Ekskuisif, mempunyai urutan, mempunyai ukuran baru, tetapi
tidak mempunyai nilai nol mutlak.
3.
Data Rasio
Data rasio mengandung sifat-sifat interval,
dan selain itu ia mempunyai nilai nol mutlak. Contoh dari data rasio di
antaranya adalah: berat badan, tinggi, panjang, atau jarak. Misalnya kita
mempunyai data panjang A = 10 m, B = 20 m, C = 30 m, dan D = 40 m. dapat disimpulkan bahwa D = 4 x A atau 2 x B. Panjang B dapat
disebut sebagai 2 X A atau 1/2 x D, dan seterusnya. Data rasio ini sering
dipakai dalam penelitian keilmuan atau enjinering. Karena data rasio, ordinal,
dan interval merupakan hasil pengukuran, maka pada ketiga data tersebut ditemui
adanya bilangan pecahan. Data rasio bersifat ekskuisif, mempunyai urutan,
mempunyai ukuran baru, dan mempunyai nol mutlak.
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
- Observasi
(pengamatan langsung)
- Angket
(kuisioner)
- Interview
(wawancara)
- Membaca
buku pengetahuan (literatur)
B. Pengolahan
Data, Metode Pengolahan Data, dan Langkah-langkah Pengolahan Data
·
Pengolahan data
Pengolahan data adalah Pengolahan data merupakan suatu proses untuk
memperoleh data/angka ringkasan berdasarkan kelompok data mentah dan mengubah
bentuk danmakna data menjadi informasi yang bermanfaat dan dapat digunakandalam
mendukung berbagai proses dalam pengelolaan perusahaantermasuk dalam
pengambilan keputusan. Peranan informasi biasanyadigunakan dalam pengambilan
keputusan pada penentuan tujuan dan berbagai sasaran perusahaan jangka
panjang maupun pendek, keputusan penyusunan strategi oleh manajemen
puncak, keputusan pada strategioperasioanal serta pemilihan tipe dan struktur
organisasi.
Apadun tujuan
dari pengolahan data ini adalah untuk mendapatkan data statistik yang dapat
digunakan untuk melihat atau menjawab persoalan secara kelompok, bukan satu
persatu
·
Metode pengolahan data
Adapun Metode
Pengolahn Data bisa di gunakna sebagai berikut:
1. Pengolahan data secara manual
Pengolahn
data secara manual Umumnya
digunakan untuk jumlah observasi yang tidak terlalu
banyak.
Contoh :penghitungan suara di TPS ketika pemilu
- Pengolahan
data secara elektronik
Pengolahn data
secara elektronik umumnya
digunakan untuk jumlah observasi yang jumlahnya banyak.
Jika pengolahan data secara manual
kemungkinan terjadinya kesalahan sangat besar, maka dengan pengolahan data
secara elektronik dapat meminimalkan kesalahan tersebut.
Contohnya :Penghitungan
suara pada TPS
·
Langkah-Langkah penyajian Data
1. Penyusunan data
Pengusunan Data
adalah cara untuk mengumpulkan
dan mengecek apakah semua data yang dibutuhkan sudah tersedia
2. Klasifikasi data
Klasifikasi
data merupakan mengelompokkan
data berdasarkan klasifikasi tertentu yang telah ditentukan peneliti
3. Pengolahan data
Pengolahn data
dilakukan untuk menguji hipotesis
yang telah dirumuskan.
C. Penyajian
Data
Penyajian data
dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah :
1.
Diagram garis
2.
Diagram batang
3.
Diagram lingkaran
1. Diagram
garis
Diagram garis
adalah grafik berupa garis, diperoleh dari beberapa ruas garis yang
menghubungkan titik-titik pada bidang bilangan. Pada grafik garis digunakan dua
garis yang saling berpotongan. Pada garis horizontal (sumbu-X) ditempatkan
bilangan-bilangan yang sifatnya tetap, seperti tahun dan ukuran-ukuran. Pada
garis tegak (sumbu-Y) ditempatkan bilangan-bilangan yang sifatnya berubah-ubah.
Contohnya
·
perkembangan volume jumlah kendaraan
yang melintasi jalan A dalam kurun waktu pukul 0.00 s/d 19.12.
·
Sebuah perusahaan yang memproduksi
barang elektronik mencatat akumulasi biaya produksi tahunan dan akumulasi
nilai penjualan selama sepuluh tahun dari tahun 1995 sampai
dengan 2004 sebagai berikut (dalam jutaan rupiah).
2. Diagram
batang
Diagram batang
biasanya digunakan untuk menggambarkan data diskrit (data cacahan). Diagram
batang adalah bentuk penyajian data statistik dalam bentuk batang yang dicatat
dalam interval tertentu pada bidang cartesius.
Contoh:
Selama 1 tahun, toko
"Anggo" mencatat keuntungan setiap bulan sebagai berikut.
|
Untung
|
2,5
|
1,8
|
2,6
|
4,2
|
3,5
|
3,3
|
4,0
|
5,0
|
2,0
|
4,2
|
6,2
|
6,2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bulan
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
11
|
12
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
Diagram Lingkaran
Diagram lingkaran merupaka sebuah diagram
yang penyajian datanya menggunakan lingkaran sebagai gambarnya. Biasanya data
yang disajikan dalam diagram lingkarang berupa persen data. Dalam pembuatan
diagram lingkaran, hal pertama yang harus anda lakukan adalah menentukan
besaran presentase tiap objek terhadap keseluruhan data dan besarnya sudut
pusat sektor lingkaran.
Contoh:
banyak buku
pelajaran yang ada di perpustakaan. Jika semua buku pelajaran yang ada di
perpustakaan berjumlah 200 buku, maka kita dapat menentukan banyaknya buku-buku
pelajaran tiap mata pelajaran yaitu sebagai berikut :
|
Banyak buku
|
Persent (%)
|
Frekuensi
|
|
Ppkn 200
|
10%
|
20
|
|
Ipa 200
|
25%
|
50
|
|
Bhs ind 200
|
15%
|
30
|
|
Matemtika 200
|
30%
|
60
|
Jawab:
BAB III
DISTRIBUSI FREKUENSI
A.
Distribusi
frekunsi dan Jenis Distribusi Frekunsi
Distribusi frekuensi adalah pengelompokkan data
kedalam beberapa kelompok (kelas) dan kemudian dihitung banyaknya data yang
masuk kedalam setiap kelas.
Distribusi frekuensi memiliki jenis-jenis
yang berbeda untuk setiap kriterianya. Berdasarkan kriteria tersebut, distribusi
frekuensi dapat dibedakan tiga jenis (Hasan, 2001):
1. Distribusi frekuensi biasa
Distribusi frekuensi yang berisikan jumlah frekuensi dari setiap
kelompok data. Distribusi frekuensi ada dua jenis yaitu distribusi frekuensi
numerik dan distribusi frekuensi peristiwa atau kategori.
2. Distribusi frekuensi relatif
Distribusi frekuensi yang berisikan nilai-nilai hasil bagi antara
frekuensi kelas dan jumlah pengamatan. Distribusi frekuensi relatif menyatakan
proporsi data yang berada pada suatu kelas interval, distribusi frekuensi
relatif pada suatu kelas didapatkan dengan cara membagi frekuensi dengan total
data yang ada dari pengamatan atau observasi.
3. Distribusi frekuensi kumulatif
Distribusi frekuensi yang berisikan frekuensi
kumulatif (frekuensi yang dijumlahkan). Distribusi frekuensi kumulatif memiliki
kurva yang disebut ogif. Ada dua macam distribusi frekuensi kumulatif yaitu
distribusi frekuensi kumulatih kurang dari dan distribusi frekuensi lebih dari.
Contohnya adalah data hasil nilai pengerjaan tugas Matematika dari 40
siswa berikut ini.
66 75 74 72 79 78 75 75 79 71
75 76 74 73 71 72 74 74 71 70
74 77 73 73 70 74 72 72 80 70
73 67 72 72 75 74 74 68 69 80
dari data diatas, dapat dibuat tabel distribusi frekuensi sbb:
Istilah-istilah yang banyak digunakan dalam pembahasan distribusi frekuensi
bergolong atau distribusi frekuensi berkelompok antara lain sebagai berikut.
a. Interval Kelas
b. Batas Kelas
c. Tepi Kelas (Batas Nyata Kelas)
d. Lebar kelas
e. Titik Tengah
Dari tabel di atas dapat dibuat daftar frekuensi kumulatif kurang dari dan
lebih dari seperti berikut.
B.
Histogram , poligon dan Ogive
Histogram
adalah Data yang telah disusun dalam bentuk tabel distribusi
frekuensi dapat disajikan dalam bentuk diagram.
Apabila titik-titik tengah sisi atas
dari histogram dihubungkan satu sama lain oleh ruas-ruas garis maka diperoleh poligon
frekuensi
Ogive adalah grafik
yang digambarkan berdasarkan data yang sudah disusun dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi kumulatif.
Contoh
histrogram dan poligon
Ogive
BAB IV
Ukuran Pemusatan Data dan Ukuran Letak Data
A. Ukuran
Pemusatan Data
Ukuran pemusatan disebut juga
rata-rata (average) menunjukkan dimana suatu data memusat atau suatu
kumpulan pengamatan memusat (mengelompok)
Ukuran statistik yang menyatakan
bahwa satu nilai yang dapat mewakili keseluruhan distribusi nilai yang sedang
diteliti.
1.
Rataan (Mean)
Mean atau rata-rata hitung adalah nilai yang diperoleh
dari jumlah sekelompok data dibagi dengan banyaknya data. Rata-rata disimbolkan
dengan x.
- Rata-Rata untuk Data Tunggal
Keterangan:
ẋ = mean
n = banyaknya data
xi= nilai data ke-i
Contoh: Contoh Rataan Data
tunggal
Nilai ulangan matematika 15 siswa kelas XIIPAadalah
7,8,6,4,10, 5,9,7, 3,8, 6, 5, 8, 9, dan 7. Tentukan nilai rata-ratanya.
Jawab:
Jadi, nilai rata-ratanya adlah 6,8
- Rata-Rata untuk Data Bergolong (Berkelompok)
Keterangan:
xi = nilai tengah data ke-i
fi = frekuesni data ke –i
xs = rataan sementara (dipilih pada interval
dengan frekuensi terbesar)
di = simpangan ke-i (selisih nilai xi
dengan nilai xs)Contoh Rataan Data
berkelompok
Tentukan rata-rata dari data berikut.
|
Nilai
|
Frekuensi
|
|
11 - 15
|
4
|
|
16 - 20
|
5
|
|
21 - 25
|
8
|
|
26 - 30
|
8
|
|
31 - 35
|
4
|
|
36 - 40
|
2
|
Jawab:
|
Nilai
|
Xi
|
F i
|
Fi . Xi
|
|
11 – 15
|
13
|
4
|
52
|
|
16 – 20
|
18
|
5
|
90
|
|
21 – 25
|
23
|
8
|
161
|
|
26 – 30
|
28
|
8
|
224
|
|
31 – 35
|
33
|
4
|
132
|
|
36 – 40
|
38
|
2
|
76
|
|
Jumlah
|
|
30
|
735
|
Penyelesaian:
2.
Median
Median adalah nilai data yang
terletak di tengah setelah data diurutkan. Dengan demikian, median membagi data
menjadi dua bagian yang sama besar. Median (nilai tengah) disimbolkan dengan
Me.
- Median untuk Data Tunggal
1. Jika banyaknya data n ganjil maka median
2. Jika banyaknya n genap maka
Contoh median tunggal
Tentukan median dari data berikut.
- 8,6,4,3,7,5,8,10,8,9,8,5
|
Nilai
|
3,4,5,6,7,8,9
|
|
Frekuensi
|
2,5,7,8,10,5,4
|
Jawab:
- Data diurutkan : 3 4 5 5 6 7 8 8 8 8 9 10
N= 12 (genap)
Jadi, mediannya adlah 7,5
- n = 41 (ganjil)
- Median untuk data berkelompok
Keterangan:
Me = median
Tb = tepi bawah kelas median
p = panjang kelas
n = banyak data
F = frekuensi kumulatif sebelum kelas median
f = frekuensi kelas median
Contoh berkelompokContoh
Median Data Bergolong
Tentukan median dari data berikut.
|
Data
|
Frekuensi
|
|
|
|
|
11-20
|
5
|
|
|
|
|
21-30
|
3
|
|
|
|
|
31-40
|
8
|
|
|
|
|
41-50
|
7
|
|
|
|
|
51-60
|
4
|
|
|
|
|
61-70
|
9
|
|
|
|
|
Jumlah
|
36
|
|
|
|
Jawab:
Karena banyaknya data adlah 36 maka median terletak
diantara data ke-18 dan data ke-19 sehingga diperoleh kelas yang mengandung
median adalah 4-40. Dengan demikian , Tb = 41-0,5 = 40,5; p=10 (11-20); f =7;
F= 16.
|
Data
|
F
|
fk
|
|
|
|
11-20
|
5
|
5
|
|
|
|
21-30
|
3
|
8
|
|
|
|
31-40
|
8
|
16
|
|
|
|
41-50
|
7
|
23
|
|
|
|
51-60
|
4
|
27
|
|
|
|
61-70
|
9
|
36
|
|
|
|
|
|
|
|
Penyelesaian:
Jadi, mediannya adlah 43,36
3.
Modus
Modus adalah data yang paling sering muncul.
Modus dari data tunggal adalah data yang
paling sering muncul.
Contoh data tunggal
Tentukan modus dari data : 7 6 5 8 3 7 9 4 6 4 8 4 10
7 5 7 8.
Jawab:
Data diurutkan: 3 4 4 4 5 5 6 6 7 7 7 7 8 8 8 9 10.
Nilai 7 muncul paling banyak, yaitu 4 kali.
Jadi, modusnya adalah 7.
- Modus untuk data berkelompok
Keterangan :
Mo : modus
Tb : tepi bawah kelas modus
p : panjang kelas
d1 : selisih frekuensi kelas modus dengan
kelas sebelumnya
d2 : selisih frekuensi kelas modus dengan kelas sesudahnya
contoh data berkelompokContoh
Modus Data Bergolong
Tentukan modus dari data berikut
|
Data
|
Frekuensi
|
|
|
|
|
11-20
|
5
|
|
|
|
|
21-30
|
3
|
|
|
|
|
31-40
|
8
|
|
|
|
|
41-50
|
7
|
|
|
|
|
51-60
|
4
|
|
|
|
|
61-70
|
9
|
|
|
|
|
Jumlah
|
36
|
|
|
|
Jawab:
Karena kelas dengan frekuensi terbanyak 9 maka modus
terletak diantara kelas 51-60; tb=51-0,5=50,5; p=10(11-20); di=9-4=5;
F=16.
Penyelesaian:
Jadi, modusnya adalah 53,36
B. Ukuran
Letak Data
Selain
ukuran pemusatan data, ada juga ukuran letak data yang masih merupakan salah
satu pengukuran data dalam statiska. Jika pada ukuran pemusatan data terdapat
median, mean dan modus. Pada ukuran letak data terdapat kuartil, desil dan
persentil. Untuk menentukan nilai ukuran letak data.
1. Kuartil
Kuartil adalah nilai yang membagi suatu data terurut menjadi empat bagian
yang sama. Kuartil dialmbangkan dengan Q . Jenis kuartil ada 3, yaitu kuartil
pertama (Q1) , kuartil kedua (Q2), dan kuartil ketiga (Q3).
·
Kuartil untuk Data Tunggal
Keterangan :
Q1 = kuartike ke-i
n = banyaknya data
contoh kuartil data tunggal
Tentukan Q1 , Q2 dan Q3
dari data : 7 3 8 5 9 4 8 3 10 2 7 6 8 7 2 6 9
Jawab :
Data terurut : 2 2 3 3 4 5 6 6 7 7 7 8 8 8 9 9 10
n = 17
·
Kuartil untuk data Bergolong
(Berkelompok)
Menentukan letak kuartil untuk data berkelompok
Keterangan :
Qi = kuartil ke-i
Tb = tepi bawah
kelas kuartil
p = panjang
kelas
n = banyak data
F = frekuensi kumulatif
sebelum kelas kuartil
f = frekuensi
kelas kuartil
becontoh data berkelompokSoal Kuartil Data
Bergolong
Tentukan Qi dari data berikut:
Jawab :
2. Desil
Desil merupakan nilai yang membagi data
menjadi sepuluh bagian sama besar. Desil sering dilambangkan dengan D. jenis
ada 6, yairu D1 , D2 , D3, ….,…,…,D9.
·
Desil untuk data tunggal
Keterangan :
Di = desilk e-i
n =
banyaknya data
contoh data
tunggal Soal Desil Data Tunggal
Tentukan
desil ke-8 dari data : 6 3 8 9 5 9 9 7 5 7 4 5 8 3 7 6.
Jawab:
n = 16
data terurut
= 3 3 4 5 5 5 6 6 7 7 7 8 8 9 9 9.
·
Desil untuk data Bergolong ( berkelompok)
Menentukan
letak desil untuk data berkelompok
Keterangan :
D1 = desil ke-i
Tb = tepi
bawah kelas kuartil
p = panjang
kelas
n = banyak
data
F =
frekuensi kumulatif sebelum kelas kuartil
f =
frekuensi kelas kuartil
contoh data
berkelompokContoh Soal Desil Data Bergol
Tentukan
nilai D6 dari data berikut
Jawab:
Jadi, nilai
D6 adalah 21,9
3. Persentil
Persentil merupakan nilai yang membagi data
menjadi serratus bagian sama besar. Persentil sering dilambangakan dengan P.
jenis persentil ada 99, yaitu P1, P2, P3 … P99.
·
Data tunggal
Keterangan :
Pi = pesentil ke-i
n =
banyaknya data
contoh data
tunggalContoh Soal Persentil Data Tunggal
Tentukan
persentil ke-65 dari data : 6 5 8 7 9 4 5 8 4 7 8 5 8 4 5.
Jawab:
n = 15
data terurut
: 4 4 4 5 5 5 5 6 7 7 8 8 8 8 9.
Jadi, nilai
persentil ke-65 adalah 7 4.
·
Data bergolong (Berkelompok)
Menetukan
letak persentil untuk data berkelompok
Keterangan :
Pi
= persentil ke-i
Tb = tepi
bawah kelas persentil
p = panjang
kelas
n = banyak
data
F =
frekuensi kumulatif sebelum kelas persentil
f =
frekuensi kelas persentil
contoh data
berkelompokkelompok
Tentukan P30
dari data berikut
Jawab:
BAB V
Dispersi Data, Kemiringan dan Keruncingan Data
A.
Dispersi
Data
Dispersi adalah perserakan dari nilai observasi terhadap nilai rata-ratanya.
Beberapa jenis pengukuran Dispersi adalah sebagai
berikut:
1. Jangkauan (Range)
2. Simpangan Rata-Rata (Mean Deviation)
3. Varians (Variance)
4. Standar Deviasi
5. Koefisien Variasi
·
Jangkauan
(Range)
Jangkauan adalah Selisih antara
batas atas dari kelas tertinggi dengan batas bawah dari kelas terendah. Dengan
rumus
Range = Xn - X1
Contoh : sepuluh pegawai Stikes Jombang, gaji masing-masing tiap bulanya
dalam ribuan rupiah adalah 50 75 150 170 175 190 200 400 600 700 Berapa range
gaji pegawai tsb?
Jawab:
Range: 700 – 50
= 650
·
Simpangan rata-rata
Simpangan
rata-rata adalah adalah
rata-rata hitung dari nilai absolut simpangan yang dirumuskan:
Contoh:
Tentukanlah simpangan rata-rata untuk kelompok
data : 20 30 50 70 80!
Jawab:
·
Varians
Untuk data yang
berkelompok dan sudah disajikan dalam tabel frekuensi, rumus varians adalah
sebagai berikut:
Contoh :
Tentukanlah variansi untuk kelompok data : 20 30 50 70 80!
Jawab:
·
Simpangan Baku (Standard
Deviation)
Untuk data yang berkelompok dan sudah disajikan
dalam tabel frekuensi, rumus simpangan baku adalah sebagai berikut:
Contoh: Tentukanlah standar deviasi untuk kelompok data : 20 30 50 70 80!
Jawab:
·
Koefisien Variasi (Coefficient of Variation)
Koefisien Variasi dapat dirumuskan
sebagai berikut:
Contoh :
Hasil ujian
dari 120 orang MK Statistik dengan Rata-rata =56 dan Simpangan Baku = 23, MK
Matematika dengan Rata-rata = 65 dan Simpangan Baku = 30. Tentukan hasil ujian yang mana yang variansinya
lebih besar!
B.
Kemiringan Data
Kemiringan
adalah ukuran yang menyatakan derajat ketidak simetrisan suatu lengkungan halus
(kurva) dari suatu distribusi frekuensi. Kemiringan distribusi data ada tiga
jenis:
•
Simetri
•
Miring ke kanan – kemiringan positif
•
Miring ke kiri – kemiringan negative
Ada beberapa
cara untuk menghitung derajat kemiringan data yaitu sebagai berikut :
1.
Rumus Pearson :
2.
Rumus
Momen
Untuk data berkelompok :
3.
Rumus
Bowley
C.
Keruncingan data
Ukuran
keruncingan / kurtosis (k) adalah ukuran mengenai tinggi rendahnya atau
runcingnya suatu kurva. Keruncingan distribusi data adalah derajat atau ukuran
tinggi rendahnya puncak suatu distribusi data terhadap distribusi normalnya
data. Keruncingan distribusi data disebut kurtosis. Ada 3 jenis derajat keruncingan
yaitu:
·
Leptokurtis -- jika puncak relatif tinggi
·
Mesokurtis
-- jika puncak normal
·
Platikurtis -- jika
puncak terlalu rendah / datar
Untuk mengetahui keruncingan suatu distribusi, ukuran yang sering digunakan adalah koefisien kurtosis persentil
adalah Koefisien keruncingan.
Koefisien keruncingan atau koefisien kurtosis dilambangkan dengan a4
(alpha 4).Jika hasil perhitungan koefisien keruncingan diperoleh :
1) Nilai lebih kecil dari 3, maka distribusinya adalah distribusi
pletikurtik
2) Nilai lebih besar dari 3, maka distibusinya adalah distribusi
leptokurtik
3) Nilai yang sama dengan 3, maka distribusinya adalah distribusi mesokurtik
Untuk mencari nilai koefisien keruncingan, dibedakan antara data tunggal dandata kelompok.
1.
Untuk data
tunggal
Contoh :
Tentukan keruncingan kurva dari
data 2, 3, 6, 8, 11 !
Jawab:
2.
Untuk data kelompok
BAB VI
Analisis Berkala dan Angka Indeks
A. Analisis Berkala
Analisis Berkala adalah data yang dikumpulkan dari
waktu ke waktu untuk menggambarkan suatu perkembangan atau kecenderungan
keadaan. Biasanya jarak atau interval dari waktu ke waktu sama.
Data berkala dapat digolongkan
kepada empat items:
a)
Gerakan Trend Jangka Panjang
b)
Gerakan Siklis
c)
Gerakan Musiman
d)
Gerakan Acak
a)
Gerakan Trend
Jangka Panjang
Gerakan Trend Jangka Panjang Adalah suatu gerakan yang
menunjukkan arah perkembangan atau kecenderungan secara umum dari data berkala
yang meliputi jangka waktu yang panjang.
b)
Gerakan Siklis
Gerakan Siklis adalah gerakan naik turun di sekitar
garis trend dalam jangka panjang.
c)
Gerakan Musiman
Gerakan Musiman Adalah gerakan yang mempunyai
pola-pola tetap atau identik dari waktu ke waktu dengan jangka waktu yang
kurang dari satu tahun.
d)
Gerakan Acak
Gerakan Acak Adalah gerakan yang bersifat sporadis atau
gerakan dengan pola yang tidak teratur.
B.
Angta Indeks
Angka Indeks (selalu
dinyatakan dalam %) merupakan suatu ukuran statistik yang menunjukkan
perubahan-perubahan peristiwa yang sama jenisnya yang berhubungan satu sama
lain dalam dua waktu yang berbeda.
Membuat
angka indeks memerlukan waktu dasar (waktu rujukan) dan waktu yang sedang
berjalan (waktu yang bersangkutan).
Akan dibahas empat items:
i.
Indeks Relatif Harga
ii.
Indeks Harga Agregatif (Tertimbang dan Tak Tertimbang)
iii.
Indeks Rata-Rata Harga Relatif
iv.
Indeks Berantai
·
Indeks relatif
harga
Indeks relatif harga dapat di rumuskan sebagai
berikut:
Keterangan:
IA = indeks harga yang tidak ditimbang
Pn =
harga yang dihitung angka indeksnya
Po =
harga pada tahun dasar
Contoh :
Berdasarkan data di atas, maka angka
indeks harga tahun 2004 adalah: IA =
1.500/1.300 x 100 = 115,38
Jadi, harga tahun 2004 mengalami
kenaikan sebesar 15,38%.
·
Indeks Harga Agregatif (Tertimbang dan Tak Tertimbang)
Indeks Harga Agregatif
(Tertimbang dan Tak Tertimbang) dapat di
rumuskan sebagai berikut:
Keterangan:
IA = indeks harga yang ditimbang
Pn = nilai yang
dihitung angka indeksnya
Po = harga pada tahun
dasar
W = faktor penimbang
Contoh penghitungan angka indeks harga
dapat kamu lihat pada tabel berikut.
Berdasarkan data di atas, maka angka
indeks harga tahun 2004 dapat dihitung dengan cara:
Jadi, pada tahun 2004 terjadi
kenaikan harga 10,61%
·
Indeks Rata-Rata Harga Relatif
Indeks Rata-Rata Harga Relatif dapat dirumuskan sebagai berikut :
Contoh :
Jawab :
·
Indeks Berantai
Indeks berantai dapat dirumuskan sebagai berikut:
Contoh:
Menghitung
angka indeks tahun 2000 dengan tahun dasar 1999, angka indeks tahun 2001 dengan
tahun dasar 2000, dan angka indeks tahun 2002 dengan tahun dasarnya 2001.
Indeks rantai dapat dihitung sebagai
berikut.
Indeks tahun 2000 = 500/500 × 100 =
100,00
Indeks tahun 2001 = 600/500 × 100 = 120,00
Indeks tahun 2002 = 700/600 × 100 = 116,67
Indeks tahun 2003 = 800/700 × 100 = 114,29
Indeks tahun 2004 = 900/800 × 100 =
112,50
BAB VII
Konsep Probabilitas
A.
Probabilitas
Probabilitas
adalah Peluang ataupun Kemungkinan suatu nilai yang digunakan untuk mengukur tingkat terjadinya suatu kejadian
yang acak
Contoh :
pengambilan sampel secara acak 10 mahasiswa dari 200 mahasiswa, terdiri dari
120 laki-laki dan 80 perempuan. Maka hasilnya bisa saja yang terpilih semua
laki-laki, semua perempuan, berpasangan, dll.
B.
Hukum
Probabilitas
·
Aturan Penjumlahan
i.
Peristiwa mutually exclusive
ii.
Peristiwa non exclusive
·
Aturan Perkalian
i.
Peristiwa bersyarat (tidak bebas)
ii.
Peristiwa tidak bersyarat (bebas)
·
Aturan
penjumlahan
Peristiwa Mutually Exclusive, Apabila dua atau lebih peristiwa tidak dapat terjadi
bersama-sama “Peristiwa A” atau “Peristiwa
B” dapat dituliskan dengan :
Contoh : peluang tertariknya
kartu A dan Q dalam satu kali tarikan pada setumpuk kartu remi adalah:
Peristiwa
Non Exclusive, Peristiwa dapat terjadi secara
bersamaan, jika terdapat 3 Peristiwa dapat
diketahui rumusnya:
Pr(A È B È C) = Pr(A) + Pr(B) + Pr(C) – Pr(A Ç B) – Pr(A Ç C) – Pr(B Ç C) + Pr(A Ç B Ç C)
Jika dinyatakan
dalam kalimat menjadi Peristiwa A dan B kemungkinan terjadi.
Contoh :
Dua buah dadu dilemparkan
bersamaan, apabila :
A = peristiwa mata (4, 4)
muncul.
B = peristiwa mata lebih kecil
dari (3, 3) muncul.
Tentukan probabilitas P(A atau
B) ?
Jawab:
P(A) = 1/36
P(B) = 14/36
P(A Ç B) = 0
P(A atau B) = P(A) + P(B) – P(A Ç B)
= 1/36 + 14/36 – 0
= 0,42
·
Aturan
Perkalian
- Aturan
Bersyarat (tidak bebas)
Peristiwa A terjadi dengan
syarat peristiwa B sudah terjadi
disimbolkan dengan Pr(A|B)
Peristiwa B terjadi dengan
syarat peristiwa A sudah terjadi,
disimbolkan dengan Pr(B|A)
Contoh :
Sebuah kotak berisikan 11 bola
dengan rincian :
5 buah bola
putih bertanda +
1 buah bola
putih bertanda –
3 buah bola
kuning bertanda +
2 buah bola
kuning bertanda –
Seseorang
mengambil sebuah bola kuning dari kotak
– Berapa
probabilitas bola itu bertanda +?
Jawab:
A = bola
kuning
B+ =
bola bertanda positif
B– =
bola bertanda negatif.
P(A) = 5/11
P(B+ Ç A) = 3/11
= 0.6
·
Aturan Tidak Bersyarat (Bebas)
Dua kejadian atau lebih yang
tidak saling mempengaruhi
Contoh : pelemparan sebuah
dadu, jika A adalah lemparan ke 1 dan B lemparan ke 2, tentukanlah probabilitas
munculnya mata dadu 3 dan mata dadu 5?
Jawab:
·
Probabilitas
Gabungan
Probabilitas
gabungan peritiwa tidak saling bebas adalah probabilitas terjadinya dua atau
lebih peristiwa secara berurutan (bersamaan) dan peristiwa-peristiwa itu saling
mempengaruhi. Jika dua peristiwa A dan B
gubungan, probabilitas terjadinya peristiwa tersebut adalah
P(A dan B) = P(A Ç B) = P(A) x P(B/A)
Jika tiga
buah peristiwa A, B, dan C gabungan, probabilitas terjadinya peristiwa tersebut
adalah
P(A Ç B Ç C) = P(A) x P(B/A) x
P(C/A Ç B)
Contoh :
Dari satu set kartu bridge
berturut-turut diambil kartu itu sebanyak 2 kali secara acak. Hitunglah
probabilitasnya kartu King (A) pada pengambilan pertama dan As (B) pada
pengambilan kedua, jika kartu pada pengambilan pertama tidak dikembalikan !
Jawab:
(A) = pengambilan pertama
keluar kartu king.
P(A) = 4/52
(B/A) = pengambilan kedua
keluar kartu as
P(B/A) = 4/51
P(A Ç B) = P(A) x P(B/A)
= 4/52 x 4/51
= 0,006
·
Probabilitas
Marjinal
Probabilitas
marjinal peristiwa tidak saling bebas adalah probabilitas terjadinya suatu
peristiwa yang tidak memiliki hubungan dengan terjadinya peristiwa lain dan
peristiwa tersebut saling mempengaruhi. Jika dua peristiwa A adalah marjinal,
probabilitas terjadinya peristiwa A tersebut adalah
P(A) = S P(B Ç A)
= SP(Ai) x P(B/Ai), i = 1, 2, 3, …..
Contoh :
¡ Sebuah kotak berisikan 11 bola
dengan rincian :
5 buah bola putih bertanda +
1 buah bola putih bertanda –
3 buah bola kuning bertanda +
2 buah bola kuning bertanda –
Tentukan probabilitas
memperoleh sebuah bola putih !
Jawab :
Misalkan :
A = bola putih
B+ = bola
bertanda positif
B– = bola
bertanda negatif
P(B+ Ç A) = 5/11
P(B– Ç A) = 1/11
P(A) = P(B+ Ç A) + P(B– Ç A)
= 5/11 + 1/11
= 6/11
C.
Permutasi
Apabila
seluruh peristiwa (n) diamati sebanyak r peristiwa dapat dirumuskan dengan
Contoh : berapa banyak
permutasi untuk membuat elemen huruf yang setiap elemennya terdiri dari 2
huruf, yang dibuat dari suatu set huruf (x,y,z)
Jika dibuktikan, susunan
hurufnya (xy, yx, xz, zx, yz, zy), Untuk permutasi (xy ≠ yx)
BAB VIII
Distribusi Teoritis
A.
Distribusi
Teoritis
Distribusi Teoritis terbagi menjadi:
1.
Variabel Random/acak
2.
Distribusi Probabilitas diskrit
3.
Distribusi probabilitas kontinum
1.
Variabel Random/acak
Setiap
Eksperimen memiliki hasil keluaran (outcome) yang bisa bernilai numerik. Variabel acak merupakan variabel yang memiliki nilai
numerik tunggal untuk setiap keluaran dari sebuah eksperimen probabilitas. Jadi
dapat bernilai angka berapapun tergantung hasil keluaran yang mungkin
dihasilkan dari suatu eksperimen. Untuk
menyatakan variabel random digunakan sebuah huruf besar, misalkan X. Sedangkan
huruf kecilnya, misalkan x, menunjukkan salah satu dari nilainya.
Contoh : S = {BBB, BBC, BCB, CBB, BCC, CBC, CCB, CCC} dengan B menunjukkan “tanpa cacat
(baik)” dan C menunjukkan “cacat”. Variabel random X yang menyatakan
jumlah barang yang cacat pada saat tiga komponen elektronik diuji, maka ditulis
X = 0, 1, 2, 3.
Jawab:
P(X=xn) = p(xn)
Nilai p(xn) antara
0 – 1
Jadi ∑p(xn) = 1
2.
Distribusi Probabilitas diskrit
Contoh Distribusi Probabilitas Diskrit
Misalkan sebuah koin dengan dua sisi yaitu sisi gambar
(G) dan sisi angka (A) dilemparkan sebanyak 4 kali berturut-turut. Hasil-hasil yang mungkin terjadi adalah :
Misalkan X adalah jumlah sisi gambar (G) yang muncul.
Nilai X yang mungkin terjadi adalah : 0, 1, 2, 3, 4
Probabilitas dari nilai X
adalah :
3.
Distribusi probabilitas kontinu
Suatu
daftar/ distribusi dr semua nilai variabel random kontinu dgn probabilitas
terjadinya masing-masing nilai tsb. Suatu fungsi f dikatakan erupakan fungsi probabilitas/distribusi
probabilitas variabel random kontinu x, jika memenuhi syarat:
Contoh:
- Usia penduduk suatu daerah.
- Panjang beberapa helai kain.
Contoh : Diketahui bahwa nilai
mahasiswa MA X angkatan 2002/2003 di
FKM UI berdistribusi normal dengan nilai rata-rata
sebesar 75 dan simpangan baku sebesar 10. Hitunglah probabilitas mahasiswa akan mendapatkan nilai sebagai berikut: Kurang dari 60! Lebih dari 90!
Jawab:
Diketahui: μ = 75 dan σ=10
Ditanya: P(x ≤ 60)=?
Ditanya: P(x ≥ 90)=?
BAB IX
Distribusi Probabilitas Binomial, Poisson dan Hipergiometrik
A.
Distribusi
binomial
Distribusi probabilitas digunakan bilamana suatu
proses sampling diasumsikan dengan proses Bernoulli.
Rumus distribusi Binomial adalah:
b(x;n,p) = nCx px qn-x dimana x = 0,1,2,3,…,n
n : banyaknya ulangan
x : banyaknya keberhasilan dalam peubah acak x
p : peluang berhasil dalam setiap ulangan
q : peluang gagal, dimana q = 1-p dalam setiap ulangan
contoh : Sebuah mata uang logam dilemparkan sebanyak 8
kali.Berapa peluang muncul gambar sebanyak 5 kali?
Jawab:
Diketahui :
n = 8
x = 5
p = ½
q = 1-p =
1- 1/2 = ½
Ditanya : peluang muncul gambar sebanyak 5 kali



Jadi,
peluang muncul gambar sebanyak 5 kali adalah 7/32
B.
Distribusi
Poisson
Distribusi
Probabilitas Poisson adalah distribusi yang digunakan untuk pendekatan
probabilitas Binomial. Ciri utama dari Distribusi Poisson adalah untuk
menghitung peluang jumlah kedatangan, kunjungan pada suatu tempat, menurut
satuan waktu.
Rumus
distribusi Poisson adalah:
P(R) =[(e^-μ) . (μ^x)]/R!
dimana:
P(R) = Peluang kejadian R yang diharapkan.
e = bilangan dengan nilai 2,718…
μ = rata-rata keberhasilan ( n.P)
x = Jumlah kejadian sesuai sampel.
n = jumlah populasi.
P = peluang keberhasilan.
Contoh:Pada tahun 2012, sebuah kota di
pedalaman Watampone, diperoleh data bahwa rata-rata terdapat 2,5 orang albino
per 175 orang. 525 orang diambil sebagai sampel percobaan. Dengan menggunakan
pendekatan Possion, tentukanlah peluang:
a. Didapat tidak ada yang albino.
b. Terdapat ada albino.
Jawab:
a.
b. Peluang
terdapat albino dari sampel adalah
= 1 – (Peluang tidak ada Albino)
= 1 – 0,00055
= 0,99945
C. Distribusi
Hipergiometrik
Distribusi Hipergeometri merupakan Distribusi
peluang perubahan acak hipergeometrik
adalah banyaknya sukses (x) dalam sampel acak ukuran n yang diambil dari
populasi sebanyak N yang mengandung jumlah sukses sebanyak k.
Rumus
Distribusi Hipergiometrik adalah:
Contoh :Dalam suatu kotak terdapat 5 bola yang terdiri
dari 2 bola Merah, 2 bola Biru dan 1 buah Putih. Berapa peluang terambil 2 bola Merah, dari 4
kali pengambilan yang dilakukan secara acak tanpapemulihan?
Jawab:
A.Pengertian , Bentuk , dan Penerapan Distribusi normal
Distribusi normal atau distribusi gauss adalah
distribusi probabilitas yang paling banyak digunakan dalam berbagai analitis
statistika.
Bentuk kurva distribusi normal Menyerupai lonceng
(genta/bel). Merupakan suatu poligon yang dilicinkan yang mana ordinat (sumbu
tegak) merupakan frekuensi dan absisnya (sumbu alas) memuat nilai variabel.Simetris
dan Luas daerah sebelah kiri dan kanan mendekati 50%.
Penerapan distribusi normal Industri,Fenomena alam, Pengujian
psikologi, Perdagangan, Tingkat pendapatan masyarakat.
B.Sifat dan Grafik Distribusi Normal
Sifat –sifat kurva distribusi normal adalah
·
Kurvanya
mempunyai puncak yang tunggal
Modus terjadi pada x = μ (bisa juga dikatakan rata-rata μ tepat
ditengah kurva tertinggi)
Kurva simetris terhadap x = μ
Kedua ujung kurva semakin mendekati sumbu mendatar
bila nilai x bergerak menjauhi rata-rata μ (sumbu
mendatar di sebut asimtot dari kurva normal)
Seluruh luas kurva normal di atas sumbu mendatar
adalah 1 .
Simpangan baku σ menentukan
bentuk kurva, semakin kecil σ akan
semakin runcing juga kurvanya .
Grafik distribusi normal
Contoh:
Dari grafik di samping kita dapat nilai z Distribusi normalnya ialah
=0,4332, ?
Jawab:
Cara mendapatkan nilai tabel Distribusi normal
A.
Pengertian dan
konsep dasar distribusi Sampel
Keseluruhan pengamatan yang diteliti, Jika ada 2000
orang, maka populasinya berjumlah 2000 orang,Terbatas & tidak
terbatas,Pengamatan populasi tidak praktis.
Populasi
adalah banyaknya pengamatan, dua jenis populasi menurut
ukurannya: terbatas (berhingga) dan tak terbatas (tak berhingga) Sifat/ciri dalam populasi disebut karakteristik
populasi, hasil pengukuran karakteristik populasi disebut parameter populasi
Sensus
adalah cara untuk mengumpulkan data populasi Kelemahan sensus: biaya mahal, waktu lama, tenaga yang
besar Kelemahan sensus diatasi
dengan teknik sampel (sampling)
Karakteristik
sampel disebut statistic,Keuntungan teknik sampel adalah biaya yang rendah serta waktu yang
pendek tanpa mengurangi keakuratan
Sampel yang
representatif memiliki ciri: ukuran tertentu yang memakai syarat, kesalahan
terkecil, dan dipilih dengan prosedur yang benar berdasarkan teknik sampel
tertentu.
Rumus-rumus distribusi Sampel
Rataaan 
Variansi 
StandarDeviasi 
Contoh:
Plat baja yang diprodusi oleh sebuah pabrik baja
memiliki daya regang rata-rata 500 dan devisiasi standar sebesar 20. Jika
sample random yang terdiri dari 100 plat dipilih dari populasi yang terdiri
dari seratus ribu plat berapakah probabilitas rata rata sample kurang dari 496.
Jawab:
BAB XII
Pendugaan Parameter
A.
Pendugaan
Parameter
Pendugaan
adalah proses yang menggunakan sampel statistik untuk menduga atau menaksir
hubungan parameter populasi yang tidak diketahui.
Pendugaan
merupakan suatu pernyataan mengenai parameter populasi yang diketahui
berdasarkan informasi dari sampel random yang diambil dari populasi
bersangkutan.
Secara umum,
parameter diberi lambang θ dan penduga diberi lambang xxx
Kriteria
Penduga Yang Baik Ialah :
- Tidak Bias
- Efisien
- Konsisten
·
Rumus untuk
satu sampel
Penduga Rata
– Rata Populasi (µ) :
Penduga
Titik
Penduga
Selang
Selang kepercayaan (1-a)100% bagi m
Jika s2 diketahui:
Jika s2 tdk diketahui:
Contoh:
·
Rumus untuk dua
sampel yang saling bebas
Penduga Beda Rata-rata Populasi (µ1-µ2)
:
Penduga titik:
Dengan Standar Error :
Jika Ragam populasi satu (s12 ) dan dua (s22 ) diketahui
Jika ragam populasi tidak
diketahui, tapi diasumsikan sama
Jika ragam populasi tidak
diketahui, tapi diasumsikan ragam populasi tidak sama
·
Penduga Selang:
Selang kepercayaan (1-a)100% : m1-m2
Jika s1 dan s2 diketahui :
Jika s1 dan s2 tdk diketahui dan diasumsikan sama:
Jika s1 dan s2 tdk diketahui dan diasumsikan tidak sama
Contoh:
Jawab:
Penduga Rata-rata populasi berpasangan (µd)
:
·
Penduga Selang :
Selang kepercayaan (1-a)100% bagi md
Contoh:
BAB XIII
Pengujian Hipotesis
A.
Pengertian Hipotesis
Hipotesis berasal dari bahasa Yunani
yaitu:
Hupo yang berarti
lemah atau kurang atau di bawah.
Thesis yang berarti
teori atau pernyataan yang disajikan sebagai bukti.
Hipotesis
dapat diartikan sebagai Suatu
pernyataan yangmasih lemah kebenarannya dan perlu dibuktikan atau dugaan
sementara.
Pengujian
Hipotesis adalah suatu prosedur yang dilakukan dengan tujuan untuk memutuskan
apakah menerima
atau menolak
hipotesis mengenai parameter populasi.
B.
Prosedur pengujian Hipotesis
Adapun
prosedur pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:
1.
Tentukan Formulasi Hipotesis
2.
Tentukan Taraf Nyata (Significant of Level)
3.
Tentukan Kriteria Pengujian
4.
Hitung Nilai Uji Statistik
5.
kesimpulan
1.
menentukan formulasi hipotesis
Hipotesis
nol yaitu (H0) dirumuskan sebagai pernyataan yang akan diuji. Rumusan
pengujian hipotesis, hendaknya Ho dibuat pernyataan untuk ditolak
Hipotesis
Alternatif / Tandingan (H1) dirumuskan
sebagai lawan /tandingan hipotesis nol Bentuk Ha terdiri atas :
Ho ; q = qo Ha:q>qo
Ha:q<qo
Ha : q ≠ qo
2.
menentukan Taraf
Nyata (Significant Level)
Taraf nyata (α) adalah
besarnya toleransi dalam menerima kesalahan hasil hipotesis terhadap nilai
parameter populasinya. Taraf nyata dalam bentuk % umumnya sebesar 1%, 5% dan
10% ditulis α 0,01; α 0,05 ; α 0,1. Besarnya kesalahan disebut sbg daerah kritis pengujian (critical
region of a test) atau daerah penolakan (region of rejection).
3.
Kriteria Pengujian
4.
Hitung nilai uji statistik
Untuk menghitung nilai uji statistik kita dapat menggunakan rumus
Ket :
x = rata-rata sampel
u0 = Dugaan rata-rata populasi
σ = Simpangan
baku populasi
n = Jumlah sampel
5.
Kesimpulan
Pembuatan kesimpulan merupakan penetapan
keputusan dalam hal penerimaan atau penolakan hipotesis nol yang sesuai dengan
kriteria pengujiannya.
Contoh:
Dari 100 nasabah bank rata-rata melakukan
penarikan $495 per bulan melalui ATM, dengan simpangan baku = $45. Dengan taraf
nyata 1%, ujilah jika rata-rata nasabah menarik melalu ATM kurang dari $500 per bulan.
Penyelesaian
X = 495
U = 500
N = 100
s = 45
Taraf nyata pengujian = a = 1% = 0.01
Hitung uji statistik
= = = -1,11
Kesimpulan : H0 diterima, karena nilai Z lebih besar
dari nilai Zα
Contoh 2:
Sebuah
perusahaan alat olah raga mengembangkan jenis batang pancing sintetik, yang
dikatakan mempunyai kekuatan dengan rata-rata 8 kg dan simpangan baku 0,5 kg.
Ujilah hipotesa yang menyatakan bahwa rata-rata kekuatan batang pancing adalah
8 kg dengan alternative lebih besar dari 8 kg bila suatu sample 50 batang
pancing itu setelah dites memberikan kekuatan rata-rata 8,4 kg. Gunakan α
= 5%.
Penyelesaian :
u = 8
s = 0.5
n = 50
x = 8,4
H0 :
μ = 8 kg
H1 :
μ > 8 kg
α = 5%, Zα=
1,64 dari tabel normal
Kesimpulan : karna nilai z lebih besar dari dari Zα maka H0 ditolak