Rabu, 28 Agustus 2019

APLIKASI PRESENSI MENGGUNAKAN IMAGE RECOGNITION DAN LOCATION BASED SERVICE



APLIKASI PRESENSI MENGGUNAKAN IMAGE RECOGNITION DAN LOCATION BASED SERVICE


TUGAS AKHIR

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Pada
Jurusan Teknik Informatika


Oleh:

NURUL HIKMA
11451201626



FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM
RIAU

ABSTRAK

Presensi merupakan suatu kegiatan pelaporan kehadiran. Di Kementrian Agama Provinsi Riau presensi menggunakan fingerprint. Dalam penggunaan fingerprint terdapat beberapa kekurangan antara lain data presensi yang bisa dimanipulasi, ketergantungan listrik dan posisi jari yang tidak pas dengan posisi mesin scanner sehingga membuat jari sulit terdeteksi. Dari permasalahan tersebut maka dibangun sebuah aplikasi yang dapat meminimalisir terjadi kesalahan dalam melakukan presensi. Aplikasi ini memanfaatkan smartphone sebagai sarana untuk melakukan presensi, memanfaatkan image recognition dan location based service. Pemanfaatan image recognition yaitu pada pengenalan wajah pegawai yang akan melakukan presensi yang menggunakan metode Eigenface, sedangkan location based service digunakan untuk mengetahui lokasi real time pegawai saat melakukan presensi. Aplikasi ini menggunakan object oriented dengan menggunakan Object Oriented Analysis (OOA) dan Object Oriented Design (OOD) sebagai pendekatan sistem dan menggunakan black box dan User Acceptance Test (UAT) untuk pengujian.
Kata Kunci: Eigenface, Location Based Service, object oriented, Presensi, smartphone.
















DAFTAR ISI






DAFTAR GAMBAR


Gambar                                                                                                      Halaman



















DAFTAR TABEL


Tabel                                                                                                          Halaman




















BAB I

1.1     Latar Belakang


Kementerian Agama Provinsi Riau merupakan Kementerian yang berfungsi untuk menjalankan kegiatan keagamaan berdasarkan Peraturan Menteri Agama dan Peraturan Perundang-Undangan di wilayah Provinsi Riau dengan tujuan untuk membantu presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Untuk meningkatkan kinerja suatu instansi maka diperlukan kedisiplinan dari pegawainya.


Jam kerja Pegawai Negeri Sipil sudah diatur dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2013 pasal dua menjelaskan hari kerja di lingkungan Kementerian Agama ditetapkan 5 (lima) hari jam kerja per minggu, mulai hari senin sampai dengan hari jumat atau sesuai dengan ketentuan hari kerja pemerintah daerah. Pasal tiga ayat satu menjelaskan setiap Pegawai Negeri Sipil wajib memenuhi jam kerja 7,5 (tujuh koma lima) perhari. Pasal tiga ayat dua menjelaskan jam kerja sebagaimana yang dimaksud pada ayat satu dilaksanakan dengan ketentuan: a. hari senin sampai hari kamis hadir dari pukul 07.30 sampai dengan pukul 16.00 dengan waktu istirahat dari pukul 12.30 sampai dengan pukul 13.00; b. hari jumat hadir pukul 07.30 sampai 16.30 dengan waktu istirahat dari pukul 11.30 sampai dengan pukul 13.00. Pasal tiga ayat tiga menjelaskan dalam hal Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak dapat memenuhi ketentuan hadir sebagaimana yang dimaksud pada ayat dua, diberi toleransi sampai pukul 09.00 dengan kewajiban memenuhi ketentuan jam kerja sebagaimana yang dimaksud pada ayat satu. Pasal tiga ayat empat menjelaskan Pegawai Negeri Sipil yang hadir setelah pukul 09.00 tanpa alasan yang sah dinyatakan tidak hadir.
Pada saat ini Menteri Agama Provinsi Riau dalam melihat kedisiplinan pegawainya dilihat dari absensi atau presensi pegawai tersebut. Untuk melihat presensi pegawai Kementerian Agama Provinsi Riau menggunakan fingerprint. Fingerprint merupakan sebuah mesin absensi biometric yang memberikan data kehadiran dengan menggunakan sidik jari. Adapun kelemahan dalam penggunaan fingerprint diantaranya yaitu data presensi mudah dimanipulasi, fingerprint membutuhkan aliran listrik apabila terjadi pemadaman listrik maka Kementerian Agama Provinsi Riau melakukan presensi secara manual dimana memanfaatkan kertas untuk melakukan presensi. Pada saat itu rentan terjadi kecurangan dalam presensi karena bisa pegawai lain yang mengisi presensi untuk pegawai lainnya. Selanjutnya setelah pegawai melakukan presensi secara manual, maka pegawai yang mengurus bagian presensi akan menginputkan data presensi seluruh pegawai yang berasal dari 10 bidang degan total pegawai berjumlah 242 pegawai, dengan jumlah pegawai tersebut maka akan menyita banyak waktu dan membutuhkan ketelitian sehingga dinilai kurang efektif. Selain itu singkronisasi dan integrase memerlukan jaringan kabel, sering terjadi kesalahan karena terlalu banyak bekas sidik jari yang membuat mesin scanner menjadi kotor yang mengakibatkan terjadi kesalahan dalam memindai, basah karena sering terkena keringat dari jari seseorang dan posisi jari yang tidak pas pada mesin scanner yang membuat jari juga sulit untuk terdeteksi.

Presensi dan kehadiran pegawai saat jam kerja merupakan salah satu proses yang sangat penting. Proses ini dikatakan penting karena dapat mempengaruhi besarnya tunjangan kerja yang akan diterima oleh Pegawai Negri Sipil (PNS) yang ada di lingkungan Kementeri Agama Provinsi Riau. Sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2016 tentang pemberian, penambahan, dan pengurangan tunjangan kerja pegawai pada Kementerian Agama, persentase pengurangan tunjangan kinerja bagi pegawai yang terlambat masuk jika pegawai terlambat 1 menit s.d 30 menit persentase pengurangan 0.5%, terlambat 31 menit s.d 60 menit persentase pengurangan 1%, terlambat 61 menit sampai dengan 90 menit persentase pengurangan 1.25% , terlambat 91 menit atau tidak mengisi daftar hadir masuk kerja pengurangan persentase 1.50%.
Sedangkan konsekuensi pegawai yang meninggalkan tempat kerja tanpa izin pada saat jam kerja sudah diatur oleh Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2016 tentang pemberian, penambahan dan pengurangan tunjangan kerja pegawai pada Kementerian Agama pada pasal tiga belas ayat dua. Pasal tersebut menjelaskan tentang pegawai yang meninggalkan tempat tugas (antara waktu masuk kerja dan waktu pulang kerja) tanpa penugasan atau izin tertulis lebih dari dua jam akan di kenakan pengurangan tunjangan kerja sebesar 2%.
 Tunjangan kerja dapat dilihat pada Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2016 tentang pemberian, penambahan, dan pengurangan tunjangan kerja pegawai pada Kementrian Agama yang dijelaskan pada pasal satu ayat empat tentang tunjangan kerja. Pasal tersebut berisikan tentang tunjangan yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang merupakan fungsi dari keberhasilan pelaksanaan reformasi birokrasi dan didasarkan pada capaian kinerja Pegawai Negeri Sipil tersebut yang sejalan dengan capaian kinerja organisasi dimana Pegawai Negeri Sipil tersebut bekerja.
Aplikasi presensi menggunakan Image Recognition dan location Based Service merupakan terobosan baru untuk menggantikan sistem presensi menggunakan fingerprint. Aplikasi ini memanfaatkan perkembangan teknologi pada alat komunikasi. Penggunaan Image Recognition dan Location Based Service (LBS) dalam sistem presensi juga menjadikan proses presensi Pegawai Kementerian Agama Provinsi Riau lebih efektif dan praktis. Selain itu, aplikasi ini juga dapat mengatasi masalah yang terjadi saat melakukan presensi menggunakan fingerprint dan membantu mengatasi masalah dalam melihat posisi pegawai pada saat jam kerja, aplikasi ini dilakukan berdasarkan lokasi pegawai secara real time.

Image recognition merupakan proses identifikasi dan pendeteksi sebuah objek atau fitur dalam sebuah gambar. Adapun algoritma image recognition secara umum yaitu pencocokan plat nomor kendaraan, pendeteksi perubahan agenda, pengenalan wajah dan lain-lain. Pada aplikasi yang akan dibangun ini memamfaatkan algoritma image recognition pengenalan wajah. Pengenalan wajah pada tugas akhir ini menggunakan metode Eigenface sedangkan software pendukungnya yaitu OpenCv. Presensi menggunakan pengenalan wajah merupakan inovasi yang cukup popular pada beberapa tahun terakhir.
Location Based Service (LBS) merupakan layanan mobile yang yang mampu mendeteksi objek dan posisi dari penggunanya selain itu Location Based Service (LBS) merupakan implementasi dari GIS.  Adapun cara kerja sistem Location Based Service (LBS) dapat dibagi menjadi tiga model, yaitu Pull-based model, Poll-based model dan Push-based model (Fanuel, Lestari, & Sutanta, 2017).
Aplikasi presensi menggunakan Image Recognition dan Location Based service ini digunakan oleh tiga user yaitu pegawai, administrator dan pimpinan. Aplikasi ini dirancang dengan model client-server, disamping mudah dalam menangani database juga relatif lebih sederhana untuk dikembangangkan dan di implementasikan. Aplikasi terdiri dari font-end dan back-end, versi android application atau front-end akan dioperasikan oleh pegawai dan versi web application atau back-end akan dioperasikan oleh administrator.
Aplikasi yang terpasang di perangkat seluler pegawai secara otomatis akan membaca lokasi dari pegawai tersebut. Data lokasi terbaru pegawai kemudian dibandingkan dengan data lokasi yang diperboleh untuk presensi. Jika lokasinya sesuai maka pegawai dapat melakukan presensi. Pada saat pegawai ingin melakukan presensi maka pegawai memilih fitur Chek-in. Aplikasi presensi akan terhubung dengan kamera pada smartphone pegawai. Kamera tersebut akan terbuka dan pegawai dapat melakukan presensi dengan cara menghadap lurus ke kamera smartphone. Selanjutnya kamera akan menangkap gambar dari wajah pegawai tesebut dan aplikasi akan melakukan proses validasi dan mengirim data presensi ke server. Jika data wajah tersebut cocok dengan data wajah yang ada di database maka akan mengirim status presensi berhasil.

Untuk mendukung penelitian ini, maka perlu adanya pemaparan dari penelitian terkait dengan aplikasi yang dibangun seperti Penelitian yang dilakukan oleh Martza Marry Swastikasari dkk pada tahun 2017 dengan judul “Design of E-KOST: An Android-based Mobile Aplication Using Location Based Service (Study case: SWCU’S Students), 2017 IEEE”. Hasil dari penelitian ini yaitu penyewa kamar dapat mencari kost yang terdekat dengan menggunakan LBS dan pemilik kost juga dapat mencari calon penyewa kost. Dengan kata lain penyewa dan pemilik kost bisa terhubung (Swastikasari, Sediyono, & Ardjo, 2017).
Penelitian oleh Rizkia CahyaNingtias dkk tahun 2016 dengan judul “Fingerprint for Automatic Door Integrated with Absence and User access, 2016 IEEE”. Pada penelitian menghasilkan sebuah aplikasi yang dapat mendeteksi siapa yang menggunakan laboratorium dan juga rekapitulasi absensi serta mengatur penggunaan sumberdaya. Aplikasi ini juga dilengkapi dengan sensor yang bisa mendeteksi siapa saja yang menggunakan labolatorium dan mendeteksi jika ada kegiatan di labolatorium serta mengatur penggunaan energi listrik (Cahyaningtias, Arianto, & Yosrita, 2016).
Penelitian oleh Maddu Kamaraji dan Penta Anil Kumar tahun 2015 dengan judul “Wireless Fingerprint Attendace Management System, 2015 IEEE”. Penelitian ini menghasilkan sebuah sistem yang dapat memudahkan dan menghemat waktu untuk manajemen absensi. Dalam hal ini menggunakan fingerprint (Kamaraju & Kumar, 2015).
Penelitian oleh Cucu Suhera dan Ikhwan Ruslianto tahun 2017 dengan judul “Identifikasi Wajah Manusia Untuk Sistem Monitoring Kehadiran Perkuliahan Menggunakan Ekstraksi Fitur Principal Component Analysis, 2017 Cendikia”. Pada penelitian ini menghasilkan sistem yang memonitoring absensi yang memanfaatkan pengenalan wajah yang terintegrasi dengan database. Pada penelitian ini menggunakan metode haar-Cascade Classifier kemudian dilakukan ekstraksi menggunakan Principal Component Analysis. Dan hasil identifikasi wajah memiliki tingkat keberhasilan 90% (Suhery & Ruslianto, 2017).
Penelitian oleh Rendy Rian Putra, Fransiskus Pasca Juniawan pada tahun 2017 yang berjudul “Penerapan Algoritma Fisherfaces Untuk Pengenalan Wajah Pada Sistem Kehadiran Mahasiswa berbasis Android, 2017 Cendikia”. Pada penelian ini menghasilkan sebuah sistem yang mendeteksi kehadiran mahasiswa menggunakan pengenalan wajah. Pada penelitian ini untuk mendeteksi wajah menggunakan algoritma local binary patten (LBP) cascade, untuk pengenalan wajah menggunakan algoritma fisherfaces. Pada penelian ini menggunakan Black box untuk pengujian, sedangkan hasil akulturasi sebesar 93,33% menggunakan 15 sample wajah (Putra & Juniawan, 2017).
Penelitian oleh Soewito dkk tahun 2017 dengan judul “Smart Mobile Attendance System Using Voice Recognition and Fingerprint on Smartphone, 2017 IEEE”. Pada penelitian ini dibangun sebuah aplikasi yang menggunakan smartphone untuk menverifikasi presensi karyawan. Aplikasi menyediakan dua pilihan untuk melakukan verifikasi, yaitu fingerprint dan voice recognition. Dihasilkan false positive pada fingerprint verification sebesar 95% dan false negative dari voice recognition sebesar 5,88% (Soewito dkk, 2017).
Penelitian oleh Romi Wiryadinata tahun 2016 dengan judul “Pengenalan Wajah Pada Sistem Presensi Menggunakan Metode Dynamic Times Wrapping, Principal Component Analysis dan Gabor Wavelet, 2016 Cendikia”. Pada penelitian ini menghasilkan sebuah aplikasi presensi yang menggunakan webcam dan memanfaatkan metode Dynamic Times Wrapping, Principal Component Analysis dan gabor wavelet. Tingkat keberhasilan menggunakan metode DTW sebesar 80%, PCA 100% dan Gabor Wavelet 100% (Wiryadinata, Sagita, Wardoyo, & Priswanto, 2016b).
Aplikasi tentang absensi pernah dibangun sebelumnya, seperti EZcloude: Absensi Online yang dilengkapi fitur approval, employee, attendance, leave, log activity.  Presensi Pegawai UNUSA yang dilengkapi fitur absensi online menggunakan fingerprint, history absensi dan fitur pengajuan izin dan Hadir- Pantau Absensi & Sales Call dilengkapi dengan fitur clock in, clock out, break, after break, overtime in dan overtime out. Dari beberapa aplikasi sebelumnya, penulis memberi perbedaaan antara aplikasi yang sudah ada dan aplikasi yang akan dibangun. Pada aplikasi yang akan dibangun menggunakan Location Based Servise dan Image Recognition, dimana aplikasi ini akan men-cek lokasi dari pegawai tersebut terlebih dahulu, jika lokasi dari pegawai cocok dengan lokasi yang ditetapkan untuk melakukan presensi maka akan muncul fitur Scan wajah yang digunakan untuk melakukan presensi. Selain itu aplikasi ini dapat mengetahui posisi dari pegawai setelah melakukan presensi.

1.2     Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini berdasarkan latar belakang di atas diantaranya:
1.         Bagaiman merancang aplikasi presensi pegawai menggunakan Image Recognition dan Location Based Service.
2.         Bagaimana merancang aplikasi yang dapat membantu Kantor Wilayah Kementria Agama Provinsi Riau khususnya dibidang Kepegawaian dalam memudahkan efektifitas laporan presensi.
3.         Bagaimana merancang aplikasi yang dapat membantu pimpinan dalam mengetahui posisi dari pegawai setelah melakukan presensi di Kementerian Agama Provinsi Riau.

1.3     Batasan Masalah

Batasan masalah pada penelitian ini sebagai berikut:
1.      Data yang digunakan adalah data dari Kementerian Agama provinsi Riau.
2.      Aplikasi ini berbasis Android.
3.      Hanya bisa menggunakan satu handphone untuk satu aplikasi presensi.
4.      Metode yang digunakan yaitu Eigenface.
5.      Menggunakan OpenCV.

1.4     Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilakukan penelitian tugas akhir ini yaitu membangun Aplikasi Presensi Menggunakan Image Recognition dan Location Based Service.

1.5     Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam laporan Tugas Akhir terdiri dari pendahuluan, landasan teori, metodologi penelitian, analisa dan perancangan, implementasi dan pengujian dan penutup.
BAB I         PENDAHULUAN
Pendahuluan merupakan tahap dasar dalam penulisan Tugas Akhir yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan serta sistematika penulisan.
BAB II       LANDASAN TEORI
Bab ini berisi tentang teori-teori yang menjadi landasan dan mendukung proses pengerjaan Tugas Akhir ini.
BAB III      METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini membahas tentang metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir. Adapun metodologi yang digunakan dalam pengembangan perangkat lunak yaitu pengumpulan data yang terdiri dari studi literatur, wawancara dan observasi, analisa kebutuhan yang menggunakan UML sebagai pengembangan sistemnya, perancangan perangkat lunak yang menggunakan object oriented, pengkodean program menggunakan Java dan PHP, pengujian, kesimpulan dan saran.
BAB IV      ANALISA DAN PERANCANGAN
                    Bab ini membahas tentang analisa langkah kerja dan perancangan sistem yang akan digunakan dalam pengembangan sistem yang akan dibangun berdasarkan metodologi penelitian.
BAB V       IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN
Bab ini berisi tentang implementasi dan pengujian terhadap aplikasi yang dibangun yang bertujuan untuk mengetahui apakah aplikasi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pengguna.
BAB VI      PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan yang di ambil dari penelitian yang dilakukan serta beberapa saran yang di ambil untuk pengembangan penelitian selanjutnya.













BAB II

2.1      Aplikasi
Menurut Nurcahyono, Aplikasi merupakan program yang berfungsi untuk membantu manusia dalam melakukan tugasnya. Aplikasi juga diartikan sebagai program yang direkayasa untuk melakukan suatu peran bagi pengguna (Nurcahyono, 2012). 
2.2      Sistem Presensi
Sistem presensi merupakan suatu kegiatan pelaporan kehadiran. Ada dua cara yang dilakukan dalam presensi yaitu dengan manual dan fingerprint. Sistem manual yaitu dengan memanfaatkan buku sebagai medianya, pada sistem manual ini terdapat kekurangan seperti tingkat kecurangan masih tinggi sedangkan menggunakan fingerprint masih terdapat kekurangan seperti sering terjadi kesalahan karena terlalu banyak bekas sidik jari yang membuat mesin scanner menjadi kotor yang mengakibatkan terjadi kesalahan dalam memindai (Wiryadinata, Sagita, Wardoyo, & Priswanto, 2016)
Menurut Peraturan Pemerintah Repulik Indonesia nomor 53 tahun 2010 tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil pasal satu ayat satu menjelaskan tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pasal tersebut berisi tentang peraturan untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dan/atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin.
Menurut Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 28 tahun 2013 tentang disiplin kehadiran Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementrian Agama pasal satu menjelaskan tentang disiplin Kehadiran. Pasal tersebut berisikan tentang kesanggupan Pegawai Negeri Sipil untuk menaati kewajiban datang, melaksanakan tugas dan pulang sesuai dengan jam kerja.
Jam kerja Pegawai Negeri Sipil sudah diatur dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2013 pasal dua menjelaskan hari kerja di lingkungan Kementerian Agama ditetapkan 5 (lima) hari jam kerja per minggu, mulai hari senin sampai dengan hari jumat atau sesuai dengan ketentuan hari kerja pemerintah daerah. Pasal tiga ayat satu menjelaskan setiap Pegawai Negeri Sipil wajib memenuhi jam kerja 7,5 (tujuh koma lima) perhari. Pasal tiga ayat dua menjelaskan jam kerja sebagaimana yang dimaksud pada ayat satu dilaksanakan dengan ketentuan: a. hari senin sampai hari kamis hadir dari pukul 07.30 sampai dengan pukul 16.00 dengan waktu istirahat dari pukul 12.30 sampai dengan pukul 13.00; b. hari jumat hadir pukul 07.30 sampai 16.30 dengan waktu istirahat dari pukul 11.30 sampai dengan pukul 13.00. Pasal tiga ayat tiga menjelaskan dalam hal Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak dapat memenuhi ketentuan hadir sebagaimana yang dimaksud pada ayat dua, diberi toleransi sampai pukul 09.00 dengan kewajiban memenuhi ketentuan jam kerja sebagaimana yang dimaksud pada ayat satu. Pasal tiga ayat empat menjelaskan Pegawai Negeri Sipil yang hadir setelah pukul 09.00 tanpa alasan yang sah dinyatakan tidak hadir.
Tunjangan kerja dapat dilihat pada Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2016 tentang pemberian, penambahan, dan pengurangan tunjangan kerja pegawai pada Kementrian Agama yang dijelaskan pada pasal satu ayat empat tentang tunjangan kerja. Pasal tersebut berisikan tentang tunjangan yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang merupakan fungsi dari keberhasilan pelaksanaan reformasi birokrasi dan didasarkan pada capaian kinerja Pegawai Negeri Sipil tersebut yang sejalan dengan capaian kinerja organisasi dimana Pegawai Negeri Sipil tersebut bekerja.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2016 tentang pemberian, penambahan, dan pengurangan tunjangan kerja pegawai pada Kementerian Agama, persentase pengurangan tunjangan kinerja bagi pegawai yang terlambat masuk jika pegawai terlambat 1 menit s.d 30 menit persentase pengurangan 0.5%, terlambat 31 menit s.d 60 menit persentase pengurangan 1%, terlambat 61 menit sampai dengan 90 menit persentase pengurangan 1.25% , terlambat 91 menit atau tidak mengisi daftar hadir masuk kerja pengurangan persentase 1.50%.
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2016 tentang pemberian, penambahan dan pengurangan tunjangan kerja pegawai pada kementerian agama pada pasal tiga belas ayat dua. Pasal tersebut menjelaskan tentang pegawai yang meninggalkan tempat tugas (antara waktu masuk kerja dan waktu pulang kerja) tanpa penugasan atau izin tertulis lebih dari dua jam akan di kenakan pengurangan tunjangan kerja sebesar 2%.
Image Recognition atau sering dikenal dengan pengenalan citra merupakan sistem pengenalan gambar, dimana aplikasi ini berguna untuk mendeteksi objek dari beberapa jenis gambar dan mendeteksi beberapa objek semantic tertentu seperti manusia, mobil dan bangunan digambar digital dan video (Muntasa, Sirajudin, & Purnomo, 2011).
Pengenalan wajah atau sering didengar dengan face recognition merupakan pengenalan wajah secara digital. Face recognition merupakan salah satu teknologi dari biometrik dimana teknologi ini banyak digunakan dalam sistem security selain pengenalan sidik jari dan retina mata. Dalam penggunaannya pengenalan wajah atau face recognition ini memanfaatkan kamera untuk mengambil foto wajah seseorang kemudian hasil dari foto wajah tersebut akan dibandingkan dengan data foto wajah yang ada di database (Syuhada, Wijaya, & Bimantoro, 2018).
Tahap pendeteksi wajah merupakan tahap yang paling penting dalam melakukan pengenalan wajah. Adapun bagian yang harus dilakukan dalam proses pendeteksi wajah atau face processing yaitu (Syuhada et al., 2018):
1.      Pengenalan wajah (face recognition)
Pengenalan wajah merupakan suatu proses yang membandingkan wajah yang baru dengan wajah yang disimpan dalam database atau mencocokkan citra wajah yang ada dalam database.
2.      Autentikasi Wajah (face authentication)
Autentikasi wajah merupakan proses pengujian keaslian data wajah dengan data wajah yang ada di database.
3.      Lokasi wajah (face localization)
4.      Penjajakan wajah (face tracking)
5.      Pengenalan ekspresi wajah (facial expression recognition)
Pada proses face recognition,terdapat tiga proses besar yaitu Input, Pre-processing, dan Recognition diantaranya yaitu:
1.      Input citra
Input citra adalah tahap pertama yang dilakukan dalam proses face recognition. Tahap ini merupakan pembacaan citra oleh perangkat lunak pengujian. Input citra dilakukan oleh pengguna sistem.
2.      pre-processing
Pre-processing adalah tahap kedua dari proses face recognition. Pre-processing merupakan tahap penyederhanaan nilai citra agar citra yang diproses dapat memberikan informasi yang lebih akurat. Adapun tahapan-tahapan pre-processing yang digunakan adalah :
a.       Cropping
Cropping merupakan tahap pemotongan citra wajah yang bertujuan untuk mengambil bagian citra (wajah) yang diperlukan dan membuang bagian selain citra wajah.
b.      Grayscale
Grayscale merupakan tahap merubah citra format RGB ke format grayscale dengan tujuan menyederhanakan intensitas pixel citra untuk mengurangi kebutuhan memori perhitungan sehingga mempercepat proses yang dilakukan.

3.      Recognition.
Recognition adalah tahap keriga dari proses face recognition. Recognition merupakan tahap menemukan citra latih yang memiliki jarak terkecil dengan citra uji.
Wajah yang termasuk sebuah citra dapat dipandang sebagai sebuah vector. Pada citra dengan lebar w pixel dan tinggi h pixel dapat dihitung komponen vector citra tersebut yakni w x h. Nilai sebuah pixel merupakan satu komponen vector. Konstruksi vector wajah terbentuk dari penggabungan sederhana, yaitu baris dari sebuah citra diletakkan bersebelahan dengan baris-baris lain, seperti pada gambar 2.1.
               
X={                                                                                                                      }


Gambar 2. 1 Vormasi Vektor dari sebuah vector (Gunadi, 2004)
Vector wajah yang telah didefinisikan sebelumnya merupakan bagian dari sebuah ruang citra (image space). Wajah manusia dapat memiliki kemiripan satu sama lainnya. Bagian-bagian wajah seperti mata, hidung, mulut, dan sebagainya terletak pada tempat yang sama. Hal ini menyebabkan semua vector wajah yang berbeda terletak pada tempat yang berdekatan dalam ruang lingkup citra (image space) (Gunadi, 2004).
Citra digital dihasilkan dari citra analog melalui digitalisasi. Pada umumnya citra digital berbentuk empat persegi panjang, dan dimensi ukurannya dinyatakan sebagai tinggi x lebar atau (lebar x tinggi). Citra digital yang merupakan refresentasi dari sebuah keadaan sebenarnya pada dunia nyata dalam bentuk susunan pixel dua dimensi dan dapat diolah pada komputer. Menciptakan dan menampilkan warna pada citra digital merupakan kombinasi dari tiga warna dasar pembentuk yaitu merah, hijau dan biru (Suhery & Ruslianto, 2017).

2.10.1    Citra Biner (Monokrom)

Citra biner terdiri dari dua buah warna yakni hitam putih (grayscale). Citra biner hanya mempunyai dua nilai keabuan, yaitu 0 dan 1. Oleh karena itu, 1 bit sudah cukup untuk mempresentasikan nilai pixel. Citra biner diperoleh melalui proses pemisahan pixel berdasarkan derajat keabuan yang dimilikinya. Proses pembineran dilakukan dengan membulatkan ke atas atau ke bawah untuk setiap nilai keabuan dari pixel yang berada di atas atau bawah harga ambang. Metode untuk menentukan besarnya nilai ambang disebut thresholding (Priswanto, Wardoyo, Sagita, & Wiryadinata, 2016).

2.10.2    Citra Grayscale (Keabuan)

Citra grayscale adalah warna-warna pixel yang berada dalam rentang gradasi warna hitam dan putih. Format citra ini disebut dangan derajat keabuan karena ada warna abu-abu diantara warna minimum (hitam) dan warna maksimum (putih). Pada umumnya citra grayscale menggunakan 8 bit (256 derajat keabuan). Jumlah bit yang tersedia pada memori yang digunakan untuk menampung warna tersebut mempengaruhi banyaknya warna. Semakin besar bit warna yang tersedia pada memori maka semakin halus pula gradasi warna yang tercipta (Priswanto et al., 2016).

2.10.3    Citra Warna

Citra warna direpresentasikan dalam beberapa kanal (channel) yang menyatakan komponen-komponen warna pengusunnya. Banyaknya kanal yang digunakan bergantung pada model warna yang digunakan pada citra tersebut. Intensitas suatu titik pada citra berwarna merupakan kombinasi dari tiga intensitas yaitu derajat keabuan merah (fmerah(x,y)), hijau (fhijau(x,y)) dan biru (fbiru(x,y)) (Priswanto et al., 2016)

2.11        Derau (Nois)

Derau (Noise) adalah gambar atau pixel yang mengganggu kualitas citra. Derau disebabkan oleh gangguan fisis (optik) pada alat akuisisi ataupun secara disengaja akibat proses pengolahan yang tidak sesuai. Contohnya adalah bintik hitam atau putih yang muncul secara acak yang tidak diinginkan di dalam citra. Bintik acak ini disebut dengan derau salt & pepper (Suhery & Ruslianto, 2017).
Namun dengan kemajuan teknologi sensor digital, noise bisa mulai ditekan seminimal mungkin. Kalau anda memegang kamera DSLR atau mirrorless yang memiliki sensor minimal APS-C, tentu sudah terbisa menggunakan ISO 3200 atau bahkan lebih dan tidak terlalu merasakan noise.
Eigenface merupakan sebuah metode yang digunakan untuk ekstraksi ciri wajah. Metode ini dikembangkan pertama kali pada pada tahun 1987 oleh Matthew dan Alex pentlad dari Vision and Modelling group dan Massachusett Institute of Technology. Namun Turk dan Pentlad menyempurnakan metode ini dengan cara mengubah perhitungan matriks kovarriannya. Principal Component Analysis (PCA) merupakan dasar dari metode Eigenface. Metode ini banyak digunakan karena komputasi yang tidak rumit dan memiliki tingkat akurasi yang baik (Syuhada , 2018).
Metode Euclidean Distance merupakan metode yang digunakan untuk menghitung jarak dari dua buah titik dalam Euclidean Space. Adapun jarak yang diambil yaitu jarak yang terpendek yang menghubungkan kedua garis tersebut. Jarak eucliden dihitung antara vector bobot dengan citra yang dibentuk oleh citra pelatihan. Citra ini merupakan citra yang diambil dari kesamaan antara citra tes dan citra wajah yang ada di database (Saputra, Wibawa, & Bahtiar, 2013).
OpenCV merupakan open source C++ untuk Image Processing dan Computer Visio. Pada tahun 1999 OpenCV pertama kali diluncurkan secara resmi oleh Intel Research sebagai lanjutan dari aplikasi insentif yang berbasis CPU, real-time, rag tracing tembok penampilan 3D. Secara umum teori OpenCv meniru cara kerja sistem visual manusia, dimana objek yang dilihat mata manusia akan diteruskan ke otak sehingga akan diketahui objek yang dilihat. OpenCv merupakan bagian dari Artificial Intellegent dimana OpenCv dikembangkan untuk menganalisis suatu gambar (Rahman & Wasista).
Location based servise (LBS) merupakan layanan yang bisa memberikan informasi tentang lokasi dari pemakai melalui aplikasi mobile network yang memanfaatkan lokasi dari mobile device tersebut. Location Based Service (LBS) memberikan layanan interaksi dua arah (Safaat, 2013).
Ada tiga teknologi yang digunakan dalam layanan berbasis lokasi yaitu internet service, GIS dan mobile device dapat dilihat pada gambar 2.1.
Gambar 2. 2 Locatio based Service (Safaat, 2013)
Location Based Service (LBS) merupakan suatu layanan yang berfungsi untuk menetukan lokasi dan objek. Pada Location Based Service (LBS) berbasis jaringan seluler penentuan posisi tersebut di tentukan berdasarkan posisi dengan lokasi BTS. Berikut adalah tiga metode yang digunakan untuk menentukan posisi sebuah handphone (Safaat, 2013):
1.      Metode Basic Positioning yang berbasis pada Cell Identification (Cell id)
Metode basic positioning yang berbasis pada cell identification menentukan posisi handphone berdasarkan letak georgafis dari sebuah cell. Handphone akan menggunakan cell id dari base station yang terhubung dengan handphone tersebut. Metode TA dan NMR merupakan metode yang sering dikombinasikan dengan Metode cell id.
Gambar 2. 3 Metode Basic Positioning Cell Identification (Safaat, 2013)
2.      Metode Enhanced Positioning
Metode enchanced positioning menggunakan tiga base station untuk menentukan posisi handphone. Jarak handphone dengan tiga base station ditentukan berdasarkan waktu yang diperlukan sinyel handphone ke masing-masing base station. Metode ini menggunakan pendekatan OTD, namun di jaringan GSM menggunakan jaringan E OTD.
Gambar 2. 4 Metode Enhanced Positioning (Safaat, 2013)
3.      Metode Advanced Positioning
Metode advanced positioning yaitu menetukan posisi handphone berdasarkan waktu yang menggunakan Assisted-Globabal Positioning System A-GPS.
Gambar 2. 5 Metode Advanced Positioning (Safaat, 2013)
Adapaun komponen yang diperlukan untuk menggunakan layanan berbasis lokasi yaitu (syafaat, 2013):
1.      Mobile Device
Mobile phone merupakan contoh dari Mobile Device dimana perangkat untuk digunakan untuk mencari, meminta sebuah informasi. Contoh perangkat lain yaitu perangkat yang menggunakna falitas nafigasi.
2.      Communicatin Network
Fungsi dari Communicatin Network adalah mengirim data pengguna dan permintaan layanan.
3.      Positioning Component
Dengan menggunakan GPS pengguna dapat menentukana posisinya.
4.      Data dan Content Provider
Pengguna dapat memanfaatkan Data dan Content Provider untuk mendapatkan informasi.
Menurut Maulidiansyah, Android menggambarkan sistem operasi, middleware dan aplikasi yang berbasis linux. Banyak pilihan yang disediakan android untuk membuat aplikasi. Kebanyakan menggunakan eclipse untuk merancang dan mengembangkan aplikasi android (Maulidiansyah, Rakhman, & Ramdhani, 2017).

2.16.1    Sejarah Android

Android merupakan sebuah sistem operasi yang didirikan oleh Rich Miner, Andy Rubin, Chris White dan Nick Sears pada bulan Oktober tahun 2003 di Palo Alto, California perusahaannya diberi nama Android, Inc. Namun pada tahun 2005 tepatnya pada tanggal 17 Agustus perusahaan tersebut dibeli oleh google dimana google merupakan perusaan terbesar pada masa itu dan pendiri nya masih tetap bekerja pada perusaan tersebut.
Open Handset Alliance (OHA) merupakan perusahaan yang memproduksi perangkat seluler seperti Sony dan Samsung yang didirikan pada tanggal 5 November 2007. Tujuan utama didirikan Open Handset Alliance (OHA) adalah untuk mengembangkan Smartphone. Android merupakan produk pertamanya yang menggunakan kernel Linux versi 2.6. Pada tanggal 22 Oktober 2008 HTC Dream meluncurkan Smartphone yang pertama menggunakan sistem android. Pada tahun 2010 google merilis Smartphone Nexus One yang di produksi oleh HTC Corporation (Safaat, 2014).

2.16.2    Arsitektur Android

Arsitektur android dapat dilihat sebagai berikut (Didit, 2012):
Gambar 2. 6 Arsitektur Android (Didit, 2012)
1.       Linux Kernel
Linux Kernel merupakan bagian pertama dari android. Pada bagian ini berisi drive dan dan komponen hardware android.
2.       Libraries
Libraries merupakan layanan utama yang berisi tentang kode program yang dari operasi android.
3.       Android Runtime
Android Runtime merupakan kumpulan dari kode aplikasi android yang bisa di aktifkan oleh pengembang.
4.       Application Framework
Pengembang dapat memanfaatkan application framework untuk aplikasi yang akan dibangun menggunakan class built-in yang terdapat disistem operasi android.
5.       Aplication
Aplication merupakan suatu program yang berfungsi untuk membantu manusia. Contohnya browser, kontak dan lain-lain.
Unified Modelling Language dimanfaatkan untuk menjelaskan, menggambarkan, membangun dan dokumentasi dari suatu aplikasi. UML menggunakan diagram dan teks-teks untuk merancang sebuah sistem atau aplikasi yang akan dibangun (Rossa & Shalahuddin, 2013).

2.17.1    Usecase Diagram

Use Case atau Diagram Use Case merupakan teknik untuk menjelaskan interaksi suatu aktor atau lebih dengan sistem yang akan dibangun. Tabel 2.1 merupakan simbol dan penjelasan dari Use Case Diagram (Rossa & Shalahuddin, 2013).

Tabel 2. 1 Usecase Diagram
No
Simbol
Keterangan fungsi
1
Aktor
Semua yang berinteraksi dengan sistem merupakan aktor. Diantanya orang, mesin, atau sistem lain.
2
Use case
Use Case merupakan urutan interaksi antara sistem dan aktor.
3
Asosiasi
Asosiasi berfungsi untuk menghubungkan antara satu objek dengan objek lain.

 

2.17.2    Class Diagram

Class Diagram merupakan gambaran strukur kelas dari sistem yang akan dibuat. Class terdiri dari metode dan atribut. Metode menjelaskan tentang fungsi dari kelas sedangkan atribut adalah variable dari kelas. Tabel 2.2 menjelaskan Simbol dan  dan keterangan Class Diagram  (Rossa & Shalahuddin, 2013).
Tabel 2. 2 Class Diagram
No
Simbol
Keterangan fungsi
1
Class
Class adalah kumpulan dari objek-objek yang terdiri dari atribut dan berada dalam operasi yang sama.
2
Generalisasi
Generalisasi merupakan gambaran hubungan objek anak yang menggantikan objek induk.
3
Nary Association
Nary Association berfungsi untuk menghindari mencegah terjadinya asosiasi yang lebih dari dua objek.

 

2.17.3    Sequence Diagram

Sequence Diagram menggambarkan sifat objek dalam sebauh use case. Untuk membuat sequence diagram maka harus ditentukan objek yang terlibat. Dibutuhkan alur cerita atau scenario untuk membuat sebuah sequence diagram. Tabel 2.3 merupakan simbol dan keteranagan Sequence Diagram (Rossa & Shalahuddin, 2013).
Tabel 2. 3 Sequence Diagram
No
Simbol
Keterangan fungsi
1
Aktor
Semua yang berinteraksi dengan sistem merupakan aktor. Diantanya orang, mesin, atau sistem lain.
2
Lifeline
Lifeline merupakan gambaran aktifitas dari objek.
3
Message
Message merupakan spesifikasi komunikasi antar objek yang mempunyai informasi dari aktifitas yang terjadi.
4
Boundary
Boundary merupakan gambaran dari sebuah form.
5
Control
Control merupakan gambaran dari penghubung antara tabel dengan boundary.
6
Entity
Gambaran dari kegiatan yang akan dilakukan.

2.17.4    Activity Diagram

Activity diagram menceritakan aktifitas yang ada pada sebuah sistem atau perangkat lunak dan activity diagram ini bukan aktor yang melakukannya. Tabel 2.4 merupakan simbol dan keterangan dari Activity Diagram (Rossa & Shalahuddin, 2013).
Tabel 2. 4 Activity Diagram
No
Simbol
Keterangan
1
Start State
Start state merupakan aktifitas awal dari sistem
2
End State
End state merupakan akhir dari sebuah sistem
3
State/Activities
State atau activities merupakan aktivitas yang dilakukan sistem.
4
Fork (Percabangan)
Fork atau percabangan digunakan untuk menunjukkan kegiatan yang dilakukan secara parallel.
5
Join (Penggabungan)
Join atau penggabungan digunakan untuk menunjukkan kegiatan yang digabungkan.
6
Decision
Decision merupakan percabangan yang memiliki pilihan aktifitas lebih dari satu.

2.18        Pengujian UAT (User Acceptance Test)
User acceptance test adalah proses pengujian sistem yang dilakukan oleh pengguna yang bertujuan untuk menghasilkan sebuah bukti bahwa sistem yang dibuat diterima, layak dan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengguna. User Acceptance Test (UAT) berbeda dengan pengujian sistem pada umumnya yang memastikan bahwa sistem tidak eror dan berjalan sesuai alurnya melainkan User Acceptance Test (UAT) akan memastikan bahwa sistem tersebut bekerja sesuai untuk penggguna, User Acceptance Test (UAT) juga tidak berfokus pada identifikasi masalah seperti kesalahan pengejaan dan lain-lain. Jenis User Acceptance Test (UAT) yang digunakan penulis adalah skala likert. Skala likert adalah salah satu jenis pengujian yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Fenomena sosial ini disebut variabel penelitian yang telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti. Jawaban dari setiap instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif yang dapat berupa kata-kata antara lain sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju. Instrumen penelitian yang menggunakan skala likert dapat dibuat dalam bentuk centang ataupun pilihan ganda. (Sugiyono, 2012)
2.19        Pengujian Black Box
Black Box Testing atau disebut juga dengan Behavioral Testing, merupakan pengujian yang berfokus pada persyaratan fungsional dari perangkat lunak. Ini berarti bahwa teknik black box testing memungkinkan untuk mendapatkan set kondisi masukan yang sepenuhnya akan melaksanakan semua persyaratan fungsional untuk suatu program. Black box testing bukan alternatif dari pengujian white box testing. Sebaliknya, black box testing adalah pendekatan komplementer yang akan mengungkap kesalahan yang berbeda dari metode white box testing. (Pressman, 2001)
Menurut Roger S. Pressman (Pressman, 2001) Black box testing mencoba untuk menemukan kesalahan dalam kategori berikut ini:
a.       Fungsi tidak benar atau hilang.
b.      Kesalahan interface atau antarmuka.
c.       Kesalahan dalam struktur data atau akses database eksternal.
d.      Kesalahan kinerja atau perilaku.
e.       Kesalahan inisialisasi dan terminasi.
Tabel 2.5 menjelaskan tentang penelitian yang berhubungan dengan presensi dan lbs yang telah dilakukan penelitian sebelumnya, dimana penelitian tersebut akan menjadi referensi untuk penulis dalam melakukan penelitiannya.
Tabel 2. 5 Penelitian Terkait
No
Nama Peneliti
Judul
Penjelasan
1
Martza Marry Swastikasari dkk, 2017 IEEE
Design of E-KOST: An Android-based Mobile Aplication Using Location Based Service (Study case: SWCU’S Students)
Hasil dari penelitian ini yaitu penyewa kamar dapat mencari kost yang terdekat dengan menggunakan Location Based Service (LBS) dan pemilik kost juga dapat mencari calon penyewa kost. Dengan kata lain penyewa dan pemilik kost bisa terhubung.
2
Rizkia Cahya Ningtias dkk, 2016 IEEE
Fingerprint for Automatic Door Integrated with Absence and User access
Pada penelitian menghasilkan sebuah aplikasi yang dapat mendeteksi siapa yang menggunakan laboratorium dan juga rekapitulasi absensi serta mengatur penggunaan sumberdaya. Aplikasi ini juga di lengkapi dengan sensor yang bisa mendeteksi siapa saja yang menggunakan labolatorium dan mendeteksi jika ada kegiatan di labolatorium serta mengatur penggunaan energi listrik.
3
Maddu Kamaraji dan Penta Anil Kumar, 2015 IEEE
Wireless Fingerprint Attendace Management System
Penelitian ini menghasilkan sebuah sistem yang dapat memudahkan dan menghemat waktu untuk manajemen absensi. Dalam hal ini menggunakan fingerprint.
4
Cucu Suhera dan Ikhwan Ruslianto,2017 Cendikia
Identifikasi Wajah Manusia Untuk Sistem Monitoring Kehadiran Perkuliahan Menggunakan Ekstraksi Fitur principal Component Analysis
Pada penelitian ini menghasilkan sistem yang memonitoring absensi yang memafaatkan pengenalan wajah yang terintegrasi dengan database. Pada penelitian ini menggunakan metode haar-Cascade Classifier kemudian dilakukan ekstraksi menggunakan Principal Component Analysis. Dan hasil identifikasi wajah memiliki tingkat keberhasilan 90%
5
Rendy Rian Putra, Fransiskus Pasca Juniawan,2017 Cendikia
Penerapan Algoritma Fisherfaces Untuk Pengenalan Wajah Pada Sistem Kehadiran Mahasiswa berbasis Android
Pada penelian ini menghasilkan sebuah sistem yang mendeteksi hehadiran mahasiswa menggunakan pengenalan wajah. Pada penelitian ini untuk mendeteksi wajah menggunakan algoritma local Binary Patten (LBP) cascade dan untuk pengenalan wajah menggunakan algoritma fisherfaces. Pada penelian ini menggunakan Black box untuk pengujian, sedangkan hasil akulturasi sebesar 93,33% menggunakan 15 sample wajah
6
Soewito dkk, 2017 IEEE
Smart Mobile Attendance System Using Voice Recognition and Fingerprint on Smartphone
Pada penelitian ini dibangun sebuah aplikasi yang menggunakan smartphone untuk memverifikasi presensi karyawan. Aplikasi menyediakan dua pilihan untuk melakukan verifikasi, yaitu fingerprint dan voice recognition. Dihasilkan false positive pada fingerprint verification sebesar 95% dan false negative dari voice recognition sebesar 5,88%
7
Romi Wiryadinata, Raya Sagita, Siswo Wardoyo,
Priswanto, 2016 Cendikia
Pengenalan Wajah Pada Sistem Presensi Menggunakan Metode Dynamic Times Wrapping, Principal Component Analysis dan Gabor Wavelet
Pada penelitian ini menghasilkan sebuah aplikasi presensi yang menggunakan webcam dan memamfaatkan metode Dynamic Times Wrapping, Principal Component Analysis dan gabor wavelet. Tingkat keberhasilan menggunakan metode DTW sebesar 80%, PCA 100% dan Gabor Wavelet 100%

Aplikasi perbandingan adalah aplikasi yang dijadikan contoh dalam penelitian ini. Berikut merupakan aplikasi perbandingan dari aplikasi yang akan dibangun diantaranya yaitu:

2.21.1    EZCloude: Absensi Online

EZCloude merupakan aplikasi absensi via smartphone yang efektif adalam memantau kegiatan absensi karyawan meliputi kehadiran, pengajuan izin, ketidak hadiran dan tindakan indisiplin secara praktis, cepat, kapan pun dimana pun. EZCloude mendukung mobilitas karyawan yang sering pindah-pindah lokasi kerja sehingga waktu scan absensi menjadi lebih efisisen melalui fitur Scan GPS dari smartphone karyawan. EZCloude juga dilengkapi dengan fitur pengajuan izin. Berikut ini merupakan gambar dari EZCloude: Absensi Online
Gambar 2. 7 EZCloude: Absensi Online

2.21.2    Presensi Pegawai UNUSA

Presensi pegawai UNUSA merupakan aplikasi yang digunakan oleh pegawai UNUSA dalam melakukan presensi. Aplikasi ini menggunakan aplikasi android berbasis GPS dan networking yang bersifat real-time update ke database kepegawaian. Aplikasi ini hanya mencatat nomor IMEI handphone sebagai data unique sehingga Staff hanya akan bisa menggunakan satu handphone untuk presensi. Berikut ini merupakan gambar dari Presensi Pegawai UNUSA.
Gambar 2. 8 Presensi Pegawai UNUSA

2.21.3    Hadir- Pantau Absensi & Sales Call

Hadir merupakan aplikasi yang digunakan unruk memantau kehadiran (absensi, presensi) karyawan diberbagai lokasi yang menggunakan GPS.  Karyawan dapat merekam kehadiran (clock-in) di lokasi-lokasi yang disetujui oleh HR melalui smartphone karyawan. Dengan menggunakan teknologi GPS dapat membantu admin dalam menentukan titik kehadiran dimanapun karyawannya berada. Aplikasi ini juga dilengkapai dengan fitur catat, hitung jam lembur dan memantau jadwal kerja. Admin atau manajemen dapat memantau kehadiran.
Gambar 2. 9 Hadir- Pantau Absensi & Sales Call















BAB III

Metode penelitian merupakan penguraian kegiatan yang dilakukan selama kegiatan penelitian berlangsung. Agar hasil dari penelitian yang ingin di capai tidak menyimpang dari tujuan yang telah di rencanakan sebelumnya. Berikut ini adalah metodologi yang digunakan.
  
        
       

     
 
Gambar 3. 1 Tahapan Metodologi Penelitian
menggunakan Object Oriented dengan menggunakan Object Oriented Analysis (OOA) dan Object Oriented Design (OOD) sebagai pendekatan sistem

menggunakan Object Oriented dengan menggunakan Object Oriented Analysis (OOA) dan Object Oriented Design (OOD) sebagai pendekatan sistem
Black box dan UAT

Black box dan UAT
java dan PHP

java dan PHP











3.1             Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan tahap pertama yang dilakukan dalam tahap penelitian. Tahap pengumpulan data merupakan tahap yang dilakukan untuk pengumpulan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian. Dalam pengumpulan data ada tiga cara yang digunakan yaitu studi literature, wawancara dan observasi.

3.1.1        Studi Literatur

Studi Literatur merupakan tahap pengumpulan data dengan cara membaca buku dan jurnal yang berhubungan dengan presensi, Location Based Service dan Image Recognition. Kemudian memabaca Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kedisiplinan pegawai, konsekuensi yang dipadat pegawai jika terlambat melakukan presensi, pemberian besar uang tunjangan kerja dibawah Menteri Agama Provinsi Riau.

3.1.2        Wawancara

Wawancara merupakan tahap pengumpulan data dengan cara mewawancara pegawai yang ada di Kementrian Agama Provinsi Riau dan administrator bagian absensi di Kementerian Agama Provinsi Riau. Tujuan dari wawancara tersebut untuk mendapatkan informasi tentang masalah yang terjadi melalui pegawai dan administrator dalam melakukan presensi dan setelah melakukan presensi di Kementrian Agama provinsi Riau.

3.1.3        Observasi

Pada tahap ini pengumpulan data dengan cara observasi dimana cara ini melakukan pengamatan secara langsung ke Kementrian Agama Provinsi Riau. Tujuan dari observasi yaitu untuk mengetahui masalah yang terjadi di Kementrian Agama Provinsi Riau dalam melakukan presensi. 

3.2             Analisis Kebutuhan

Analisa kebutuhan merupakan tahap kedua yang dilakukan dalam penelitian. Setelah melakukan pengumpulan data yang dilakukan dengan studi literature, wawancara dan observasi, kemudian data yang didapatkan akan diolah untuk mendapatkan solusi dari permasalahan tersebut. Analisa terbagi dua tahapan yaitu:

3.3.1        Analisa Sistem Lama

Analisa sistem lama merupakan proses presensi yang sedang berlaku di Kementerian Agama Provinsi Riau. Untuk melakukan presensi pegawai Kementerian Agama Provinsi Riau menggunakan fingerprint, pegawai harus mendatangi mesin fingerprint yang terpasang dikantor Kementerian Agama Provinsi Riau, kemudian melakukan pemindaian sidik jari jika ada notifikasi terimakasih maka data presensi dari pegawai tersebut berhasil tersimpan. Data presensi pegawai tersebut tersimpan di memori mesin fingerprint. Untuk mengambil data presensi tersebut maka administrator harus mengoneksikan antara mesin fingerprint dan sistem fingerprint.
Data presensi digunakan untuk menghitung tunjangan kerja yang didapat oleh setiap pegawai. Untuk menghitung tunjangan kerja yang didapat oleh setiap pegawai maka administrator mengambil data dari sistem fingerprint, selanjutnya data tersebut di inputkan ke aplikasi lain yang digunakan untuk mengitung tunjangan kerja yang di dapat setiap pegawai di Kementerian Agama Provinsi Riau.

3.3.2        Analisa Sistem Baru

Analisa sistem baru merupakan tahap lanjutan dari analisa sistem lama. Pada tahap ini akan dibangun aplikais presensi yang memanfaatkan image recognition dan locatio based service berbasis mobile untuk pegawai dan berbasis web untuk administrator dan pegawai. Adapun kelebihan dari aplikasi presensi menggunakan image recognition dan location based service yang akan dibangun ini antaranya:
1.      Mempermudah pegawai dalam melakukan presensi.
2.      Mempermudah administrator dalam mengelola data presensi.
3.      Mempermudah pimpinan dalam mengetahui posisi dari pegawai setelah melakukan presensi.

3.3             Desain

Desain merupakan tahap ketiga yang dilakukan dalam penelitian. Pada tahap ini akan didesain sistem yang sesuai dengan hasil analisa kebutuhan yang telah dilakukan. Pada tahap ini juga akan ditentukan fitur yang akan digunakan dan yang diperlukan oleh pengguna. Pada tahap ini menggunakan Object Oriented dengan menggunakan Object Oriented Analysis (OOA) dan Object Oriented Design (OOD) sebagai pendekatan sistem. Dalam tahap ini akan menghasilkan desain antar muka untuk pengguna diantaranya yaitu pegawai, pimpinan, dan administrator untuk Kementrian Agama Provinsi Riau.

3.4             Pengkodean Program

Tahap selanjutnya yaitu tahap pengkodean program. Tahap ini merupakan tahap ke-empat dalam melakukan pembuatan sistem. Tahap ini dilakukan setelah desain rancang. Pada tahap ini akan menghasilkan sebuah aplikasi yang sesuia dengan desain yang dilakukan. Aplikasi yang akan dibangun berbasis android dan web, dalam hal ini android digunakan oleh pegawai Kementrian Agama Provinsi Riau yang menggunakan bahasa pemograman Java sedangkan aplikasi yang berbasis web di gunakan oleh administrator dan menggunakan bahasa pemograman PHP.

3.5             Pengujian

Pengujian merupakan tahap dimana aplikasi yang sudah dibangun akan diuji untuk mendapatkan hasil yang di inginkan dan mengetahui apakah aplikasi tersebut berfungsi semestinya. Pengujian dilakukan dengan 2 cara, yaitu pengujian black box yang berfokus pada fungsi-fungsi yang ada di aplikasi dan pengujian dengan UAT (User Acceptance Test) yang berfokus kepada pendapat pengguna yaitu pegawai dan pemimpin Kementrian Agama Provinsi Riau terhadap aplikasi yang telah dibangun sehingga diketahui apakah aplikasi sesuai dengan yang dibutuhkan.
Skenario pengujian pada aplikasi ini yaitu pengujian yang dilakukan diluar ruangan (outdoor), pengujian yang dilakukan didalam ruangan (indoor), pengujian jarak citra yang diambil, pengujian waktu pengenalan wajah dan pengujian pada saat menggunakan atribut dan tidak menggunakan atribut. Contohnya yaitu pada saat dilakukan pengambilan data wajah untuk disimpan di database menggunakan atribut tetapi waktu pengujian tidak menggunakan atribut, maka akan dilihat persentase kemiripan wajah tersebut.

3.6             Kesimpulan dan Saran

 Tahap selanjut nya yaitu kesimulan dan saran. Tahap ini adalah tahap terakhir dari penelitian. Kesimpulan dan saran hanya bisa di ambil jika semua tahapan sudah selesai. Pada tahap ini akan dilakukan proses penyimpulan hasil penelitian mengenai aplikasi presensi menggunakan image recognition dan location based service dan akan disebutkan saran-saran yang membangun terhadap penelitian ini agar menimbulkan penelitan baru yang dapat memperbaiki penelitian sebelumnya.



















DAFTAR PUSTAKA

Cahyaningtias, R., Arianto, R., & Yosrita, E. (2016). Fingerprint for Automatic Door Integrated with Absence and User Access. 2016 International Symposium on Electronics and Smart Devices (ISESD) November 29-30.
Didit, S. (2012). pemograman aplikasi android. yogyakarta: mediakom.
Fanuel, W. A. F., Lestari, U., & Sutanta, E. (2017). PEMANFAATAN METODE LOCATION BASED SERVICE PADA APLIKASI PENCARIAN LOKASI RUMAH IBADAH TERDEKAT DI KOTA PALU BERBASIS ANDROID I, 5(1), 31–38.
Gunadi, K. (2004). Pembuatan Perangkat Lunak pengenalan wajah Menggunakan Principal Component Analysis. Universitas Kristen Petra.
Kamaraju, M., & Kumar, P. A. (2015). Wireless Fingerprint Attendace Management System. 2015 IEEE Region 10 Conference (TENCON).
Maulidiansyah, R., Rakhman, D. F., & Ramdhani, M. A. (2017). APLIKASI PELAPORAN KERUSAKAN JALAN TOL MENGGUNAKAN LAYANAN WEB SERVICE BERBASIS ANDROID, X(1), 117–123.
Muntasa, A., Sirajudin,  indah A., & Purnomo, M. H. (2011). Appearance Global and Local Structure Fusion for Face Image Recognition. 2011 TELKOMNIKA Vol.9 No.1.
Nurcahyono, F. (2012). Pembangunan Aplikasi Penjualan Dan Stok Barang Pada Toko Nuansa Elektronik Pacitan, 4(3), 15–19.
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2013 tentang disiplin kehadiran pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementrian Agama
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2016 tentang pemberian, penambahan, dan pengurangan tunjangan kerja pegawai pada Kementrian Agama
Peraturan Pemerintah Repulik Indonesia nomor 53 tahun 2010 tentang disiplin Pegawai Negeri Sipil
Pressman, R. S. (2001). Software Engineering : a practitioner’s approach (5th ed) (5th ed.). Newyork: Thomas Casson.
Priswanto, Wardoyo, S., Sagita, R., & Wiryadinata, R. (2016). Pengenalan Wajah pada Sistem Presensi Menggunakan Metode Dynamic Times Wrapping, PCA dan Gabor Wavelet, 1–8.
Putra, R. R. C., & Juniawan, F. P. (2017). Penerapan Algoritma Fisherfaces Untuk Pengenalan Wajah Pada Sistem Kehadiran Mahasiswa berbasis Android. 2017 Jurnal Telematika, Vol 10, No.
Rahman, M. A., & Wasista, I. S. (n.d.). ABSENSI DENGAN METODE TEMPLATE MATCHING, 1–6.
Rossa, A., & Shalahuddin, M. (2013). Rekayasa Perangkat Lunak Terstruktur dan Berorientasi Objek. Bandung: Informatika.
Safaat, N. (2013). aplikasi berbsis android. Bandung: Informatika.
Safaat, N. (2014). Pemrograman Aplikasi Mobile Smartphone dan Tablet PC Berbasis Android. Bandung: Informatika.
Soewito, B., Gaol, F. L., Simanjuntak, E., & Gunawan, F. E. (2017). Smart mobile attendance system using voice recognition and fingerprint on smartphone. Proceeding - 2016 International Seminar on Intelligent Technology and Its Application, ISITIA 2016: Recent Trends in Intelligent Computational Technologies for Sustainable Energy, 175–180. https://doi.org/10.1109/ISITIA.2016.7828654
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suhery, C., & Ruslianto, I. (2017). Identifikasi Wajah Manusia Untuk Sistem Monitoring Kehadiran Perkuliahan Menggunakan Ekstraksi Fitur principal Component Analysis. 2017 Jurnal Edukasi Dan Penelitian Informatika (JEPIN) Vol.3, No.1.
Swastikasari, M. M., Sediyono, E., & Ardjo, A. . (2017). Design of E-KOST: An Android-based Mobile Aplication Using Location Based Service (Study case: SWCU’S Students).
Syuhada, F., Wijaya, I. gede P. S., & Bimantoro, F. (2018). Pengenalan Wajah Untuk Sistem Kehadiran Menggunakan Metode Eigenface dan Euclidean Distance. 2018 J-Cosine, Vol 2, No 1.
Wiryadinata, R., Sagita, R., Wardoyo, S., & Priswanto. (2016a). P Engenalan W Ajah P Ada S Istem P Resensi M Enggunakan M Etode D Ynamic T Imes W Rapping , P Rincipal C Omponent a Nalysis F Ace R Ecognition O N a Ttendance S Ystem U Sing M Ethod of D Ynamic T Imes, 12(1), 1–8.
Wiryadinata, R., Sagita, R., Wardoyo, S., & Priswanto. (2016b). Pengenalan Wajah Pada Sistem Presensi Menggunakan Metode Dynamic Times Wrapping, Principal Component Analysis dan Gabor Wavelet. 2016 Dinamika Rekayasa Vol.12 No.1, 1–8.

Makalah Lembaga Pendidikan Islam

  BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Islam merupakan komponen terpenting untuk membentuk dan mewarnai corak hidup masyarakat. Pen...